Tragedi di Meja Makan

“Kalau sampai kau berbuat yang macam-macam, kau akan tahu akibatnya.”

Dan Mira masih saja mesem.

Pukul tujuh malam lebih beberapa menit, lima orang tamu itu sudah berdiri di muka pintu. Mama dan Papa mempersilakan mereka masuk. Mereka ngobrol sebentar di ruang depan sambil mengudap camilan yang sudah disiapkan Mama. Mira tak pernah tahu, atau barangkali lupa, kalau di rumahnya ada makanan ringan sebayak itu. Juga sirup dengan aneka warna dan rasa.

Di sela perbincangannya dengan para tamu, hampir setiap menit Mama melirik kepada Mira dengan kedipan khas, kedipan kecil yang menyimpan ancaman besar: Ingat! Jangan macam-macam. Dan Mira tetap diam, karena ia memang tak menemukan apa pun yang cukup menarik baginya.

Mira bersikap cukup manis sepanjang perbincangan di ruang depan, hingga Mama menggiring para tamu ke meja makan yang letaknya di sebelah ruang depan dan hanya terhalang kelambu yang terbuat dari manik-manik lokan—yang akan bergemerincing bila disingkap. Sebuah meja makan raksasa telah terpatri di sana dengan aneka hidangan dan buah yang tertata rapi dan menggugah selera.

Mira tersenyum menyambutnya. Liurnya hampir meleleh. Ia tak tahu kapan Mama menyiapkan semua itu, kalau Mama bilang, pasti Mira bisa membantunya menyiapkan semua itu. Dengan senang hati.

“Silakan duduk, buatlah diri kalian senyaman mungkin,” senyum Mama kelewat manis. Mira tak ingat Mama pernah tersenyum seperti itu padanya.

Ada delapan kursi yang mengelilingi meja hidang itu, lima kursi untuk tamu, dan tiga kursi yang terletak hampir bersandingan di sudut kanan untuk Papa, Mama, dan Mira sendiri.

“Tunggu apa lagi?” Mama mengerjap lalu matanya membinar. Ia mulai mengenakan celemek makan berwarna putih bersih itu di lehernya, disusul yang lain.

“Mira?” Mama menoleh padanya dan memakaikan celemek yang sama di lehernya.

“Alangkah baiknya jika kita berdoa dulu,” ujar salah seorang tamu perempuan yang agak tua dan berkacamata.

Arsip Cerpen di Indonesia