“Oh, tentu, kita selalu melakukannya, kita selalu berdoa sebelum melakukan apa saja,” sambar Mama. Mira tahu Mama bohong, tapi ia diam saja.
Setelah hening sejenak, orang-orang pun mulai sibuk dengan sendok dan pisaunya. Suara sendok berdentingan menyentuh piring dan mangkuk. Suara air bergemericik mengaliri gelas-gelas bertangkai. Orang-orang mulai konsentrasi dengan menu dan piring di hadapannya. Tapi Mira tidak. Ia hanya memelototi menu-menu yang terhidang di meja—yang tutupnya baru saja disingkap Mama.
Beberapa menit berikutnya, Mira terlonjak karena melihat ikan-ikan yang terbaring dalam piring itu tiba-tiba berloncatan di atas meja, menggelepar-gelepar karena tak ada air. Dua ingkung ayam berbumbu merah tiba-tiba bangkit dan berjalan terhuyung-huyung menubruk apa aja. Sayapnya yang gundul mengepak-ngepak, sorot matanya tajam, dan paruhnya selancip jarum suntik raksasa yang pernah menikam tubuh Mira dua tahun silam. Bagi Mira pemandangan itu sangat menyeramkan, dan bisa saja membahayakan semua orang. “Ya Tuhan, ikan dan ayamnya…” seru Mira tiba-tiba, seperti orang bingung.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba Mira memanjat meja makan besar itu dan menusuk-nusuk beberapa porsi gurami asam manis dan kakap bakar pedas yang terhidang di atas piring dengan garpunya, juga ayam bumbu merah yang lunglai dan mumur karena terkaman membabi buta dari garpu Mira. Para tamu histeris dan menghambur dari meja makan. Sementara Mama dan Papa segera mencengkeram bocah itu dan mengunci tubuhnya.
“Apa anakmu baik-baik saja?” Tanya salah seorang tamu.
“Sepertinya ia kerasukan,” bisik tamu yang lain.
“Maaf, terkadang imajinasi anak ini memang tak terbendung, ia pasti melihat ikan-ikan dalam piring itu hidup dan melompat-lompat. Tak apa, kami akan membawanya ke kamar,” ujar Mama.
Tapi salah seorang tamu, atasan Papa di tempat Papa bekerja, menyela, “Kalau begitu kami langsung pamit saja, kami takut mengganggu. Kalian urus saja bocah itu dengan tenang. Makan malamnya bisa kita lanjut lain kali.”
“Tapi,” Papa menyela.