Gelak Tawa di Rumah Duka

Aku tersanjung tapi juga tertawa terbahak-bahak melihat lelaki itu menggerakkan tangan dan kakinya. Sejak pertama, lelaki itu bukanlah lelaki yang pandai berdansa. Bukan, dansa jenis apapun. Dan kini, menurutku ia tidak sedang berdansa, tapi sedang bermain pantomim. Wajahnya yang gosong itu benar-benar membuatnya lucu. Demi Tuhan, tak ada yang lebih lucu dari permainan pantomim yang diperankan oleh seonggok mayat gosong di sebuah rumah duka.

“Baiklah, aku bersedia!”

Perempuan yang Berdansa di Atas Peti Mati

Lelaki di dalam peti adalah salah satu lelaki terbaik yang pernah hidup di muka bumi. Ia adalah anak sulung dengan tiga saudara. Semenjak ayahnya meninggal, ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya sangat bangga padanya. Adik-adiknya menghormatinya penuh seluruh. Istrinya sangat mencintainya lebih dari banyak hal di dunia ini. Dan orang-orang menganggapnya sebagai malaikat dalam wujud manusia. Sulit membayangkan lelaki sebaik itu mati di usia muda. Dengan cara mengenaskan.

Kini, lelaki itu pergi meninggalkan satu istri dan satu anak yang berusia tujuh tahun. Serta puluhan restoran yang menyajikan aneka jenis makanan dari olahan umbi-umbian. Restoran yang ia rancang dari nol sampai sekarang memiliki 27 cabang di 17 kota yang tersebar di seantero negeri. Dulu saat usianya 18 tahun, ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Tak meninggalkan banyak warisan untuk anak-anaknya. Hanya seorang ibu yang telah menjanda, serta dua orang adik yang masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal.

Dengan daya kreatif dari otaknya yang encer, ia mencoba berbisnis, mengolah aneka makanan dari berbagai bahan yang ia rasa murah dan menghasilkan keuntungan yang ramah. Ia menghitung setiap kegagalan yang dilaluinya, tak kurang dari sepuluh kegagalan, sampai akhirnya ia menemukan umbi-umbian yang menjadi jodohnya itu. Yang membuatnya mampu menyekolahkan adik-adik hingga ke luar negeri. Pada usia 27, ia bertemu dengan sorang pelanggan restorannya, yang juga seorang model lokal. Ia menikahinya, lantas keduanya berjibaku menjalankan restoran yang dari hari ke hari semakin ramai itu.

Tak lupa, dari penghasilan yang ia dapat, ia selalu menyisihkan untuk sejumlah panti asuhan yatim piatu. Setiap kali Lebaran atau Natal atau Imlek, ia membagikan sembako dan angpau untuk orang-orang kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga tak segan-segan membantu anak-anak muda yang penuh daya kreatif namun mengalami kesulitan finansial. Semua ia rangkul. Semua ia karibi. Dan sebab itulah, orang-orang menganggapnya malaikat dalam wujud manusia.

Arsip Cerpen di Indonesia