Gelak Tawa di Rumah Duka

Lelaki itu duduk sebentar di ruang tengah. Bermain handphone. Lalu berseru padamu, “Apa kau sibuk, bisakah kau rebuskan aku air?”

Kau tidak menjawab, tapi berlalu ke kamar kecil. Di kamar kecil, kau tidak melakukan apapun kecuali menyalakan air keran sekencang mungkin, lalu menyandarkan kepalamu ke tembok sambil menangis tersedu-sedu. Kau menunggu dan menunggu. Hingga suara ledakan itu menggema. Membuat tubuhmu ikut terguncang. Dalam hitungan menit, dapurmu luluh lantak dijangkiti api di sana-sini. Suara alarm meraung-raung. Kau menjerit-jerit. Para tetangga berhamburan menerobos rumahmu. Memberikan bantuan. Dapurmu hancur, dan lelaki itu tergeletak di lantai dengan pakaian dan kulit gosong. Ia sudah tak bernyawa.

Seseorang dalam tubuhmu menjerit-jerit lagi. Lalu pingsan. Setelah sadar, selama berjam-jam kau merasa seperti orang yang kehilangan jiwa. Hanya melayang-layang di udara, menyaksikan segalanya berlalu. Ada sesak yang sangat memenuhi dadamu. Kau tak tahu itu apa. Seluruh bagian tubuhmu terasa ringan kecuali bagian itu-sesak yang menumpuk di dada, dan terasa sangat berat. Ibarat sebuah balon dengan batu besar di dalamnya. Barangkali akan lebih baik jika balon itu meletus dan batu itu terempas ke tanah. Akan lebih baik kalau tubuhmu ikut hancur dan gosong malam itu. Barangkali, saat ini kau tak akan merasakan apapun. Namun yang terjadi telah terjadi.

Kau menyesali harum lavender di dapur malam itu. Namun sungguh, kau tak akan melakukan suatu hal tanpa alasan. Kau tak akan mencabut selang dari kompor tanpa alasan. Kau tak akan menyemprot harum lavender ke seisi dapur tanpa alasan. Dan alasan yang tak ingin kau ingat itu telah lebih dari cukup untuk membuat lelaki itu terpanggang tanpa ampun. Lelaki itu pantas menerimanya, dan pergi ke neraka.

Seharusnya kau menaruh curiga jauh-jauh hari. Mengapa lelaki itu selalu merekrut pegawai laki-laki, semuanya masih muda dan berpenampilan menarik. Lelaki itu selalu mengatakan, mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, penuh semangat, dan butuh tempat. Kau terbahak mengingatnya. Semua benar-benar di luar dugaan. Lelaki yang kau kenal selama hampir sepuluh tahun itu rupanya memiliki dunianya sendiri. Kau melihat dunia itu tanpa sengaja. Sekali. Malam itu, ia mencumbui pegawai barunya di dapur restoran saat pegawai-pegawai lain telah pulang. Terlampau jijiknya mengingat pemandangan itu, kau muntah berkali-kali sesampainya di rumah. Kau melihat anakmu yang tertidur, dan tangisan itu meledak begitu saja. Menggumpalkan janin berupa dendam dan kebencian.

Arsip Cerpen di Indonesia