Gelak Tawa di Rumah Duka

Lelaki itu meninggal di usia 38, usia yang masih terbilang muda. Pada hari menjelang pemakamannya, di rumah duka-yang lebih mirip rumah pesta itu-seharusnya semuanya berjalan hening, sebagaimana layaknya sebuah rumah duka. Rasanya, setiap orang menyelami kesedihan yang sama. Menginsafi kehilangan yang sama. Terutama perempuan itu.

Namun sungguh di luar dugaan. Saat semua orang berbincang, tiba-tiba perempuan itu berjalan mendekati peti mati yang terbujur di tengah ruangan dan memanjatnya. Lalu tertawa-tawa dan memainkan tarian aneh. Gerakan-gerakan canggung serupa badut yang bermain pantomim. Tak seorangpun berusaha mencegahnya. Semua orang menganggap kesedihan yang menimbun lubuk perempuan itu terlalu penuh. Kesedihan yang serupa cairan hitam. Melumuri seluruh tubuh. Memburamkan penglihatan, dan bahkan hati. Terkadang kesedihan yang tak bisa dikendalikan akan mengendalikan balik si empunya kesedihan. Dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan membuatnya gila. Gila dalam arti sesungguhnya.

Api yang Menyala dan Memantik Gelak Tawa

Lelaki itu. Seharusnya kau mengenalnya. Tapi kau tak benar-benar mengenalnya. Setiap orang menganggapnya sebagai lelaki sempurna. Kau pun begitu. Ia memiliki paras yang tampan. Peduli pada sesama. Cerdas. Pandai memasak. Perhatian pada keluarga. Pandai mengambil hati anak-anak. Dan selalu mengalah. Setidaknya seperti itulah kau mengenalnya selama hampir sepuluh tahun. Hingga enam bulan terakhir, keganjilan itu muncul sejengkal demi sejengkal. Kau tak tahu apakah kau menyesali kehidupan yang mendekati sempurna selama hampir sepuluh tahun itu. Yang jelas, malam itu kau ingin menyerahkan hidupmu pada sebilah pisau. Tapi kau mendadak teringat anakmu. Kau memutuskan rencana lain.

Hari itu kau telah merancang semuanya. Kau mengantar pembantumu dan anakmu ke rumah eyangnya. Rencanamu akan terhalang kalau mereka ada di rumah. Kau ingin malam itu hanya ada dirimu dan lelaki itu. Jangan ada yang lain.

Lelaki itu punya kebiasaan menyeduh uwuh setiap kali pulang dari restoran. Kadang kau yang meracikkannya. Kadang kalau kau terlihat enggan, lelaki itu meraciknya sendiri. Seperti malam itu. Ketika kau mendengar deruman mobil di halaman. Kau berlari gegas ke dapur. Mencabut selang gas yang terhubung ke kompor. Lalu menyemprot seisi dapur dengan pengharum ruangan aroma lavender, agar aroma gas tercium samar.

Arsip Cerpen di Indonesia