Kurma dari Madinah

Pak Madi selalu mengalah. Percuma berdebat kusir dengan istri. Tetapi Pak Madi selalu sedih melihat akibat yang ditimbulkan dari sikap istrinya yang suka bermewah-mewahan. Misalnya, putranya menjadi ikut-ikutan suka bermewah-mewahan. Jika pulang ke desa, putranya selalu membawa mobil mewah tipe terbaru yang baru saja keluar dari diler dan belum ada pelat nomomya.

Pernah Pak Madi memberi nasihat kepada putranya agar jangan suka bermewah- mewahan. “Kamu pejabat negara. Kalau suka bermewah-mewahan, kamu bisa melakukan korupsi.”

Putranya tertawa. “Bapak tak usah khawatir. Tanpa korupsi, saya bisa hidup mewah, karena punya banyak kolega dan banyak sumber penghasilan.”

Mendengar ucapan putranya itu, Pak Madi justru makin khawatir. Sebab, sepengetahuannya, gaji pejabat negara tidak seberapa jika dibandingkan dengan gaya hidup dan beban sosialnya.

Gaji yang cukup besar bagi pejabat bisa habis untuk membayar berbagai rekening tetap bulanan, juga biaya pergaulan tingkat atas seperti menghadiri pesta-pesta.

“Kamu boleh menikmati hidupmu dengan bermewah-mewahan, tetapi jangan sekali-sekali melakukan korupsi dan mencemarkan nama baik orangtua.” Pak Madi berpesan kepada putranya dengan suara berat Rasanya lebih baik mati daripada hidup menanggung malu gara-gara punya anak menjadi koruptor yang diberitakan di berbagai media massa.

***

Arsip Cerpen di Indonesia