Sejak saat itu, Pak Madi lumpuh dan bicaranya gagu. Dokter yang memeriksanya menyatakan Pak Madi terserang stroke dan kemungkinan akan lumpuh permanen karena usianya sudah uzur.
Istrinya terpukul. Betapa di hari tuanya harus repot-repot merawat suami yang menderita lumpuh total. Sementara itu, putra semata wayangnya menjadi buronan. Hari-hari yang semula ceria dan serba wah, kini menjadi muram dan serba susah.
Di pagi itu, Pak Madi baru saja dimandikan dan disuapi istrinya. Sejak menderita lumpuh dan tak bisa bicara dengan jelas, Pak Madi tidak lagi berpuasa.
Tampak istrinya sangat lelah. Matanya terasa gelap, dan sekujur tubuhnya lemas. Lalu duduk di beranda depan untuk menghirup udara segar.
Tiba-tiba datang seorang kurir dari perusahaan layanan jasa titipan kilat yang mengantarkan bungkusan kardus yang dikirim putranya dari Singapura.
Bungkusan kardus itu segera dibawa ke kamar dan dibuka di depan Pak Madi. Isi bungkusan kardus itu adalah kurma seberat 10 kilogram dan selembar surat dengan tanda tangan putranya.
Dalam kelumpuhan, Pak Madi mendengar istrinya membaca surat dari putranya itu. “Maafkan saya, karena telah mencoreng nama baik keluarga. Sekarang saya sehat-sehat saja di Singapura. Dan bersama surat ini, saya kirimkan sepuluh kilogram kurma dari Madinah.”
Pak Madi melirik sebutir kurma dari Madinah yang telah dipungut istrinya dan hendak disuapkan ke mulutnya. Di mata Pak Madi, sebutir kurma itu bagaikan sebongkah bara panas. Tak mungkin bisa dinikmati. ***