Kurma dari Madinah

SAM PAI pertengahan Ramadan, Pak Madi belum ditelefon putranya lagi. Dan setiap Pak Madi mencoba menelefon putranya selalu gagal. HP milik putranya selalu dimatikan.

“Mungkin ingin khusyuk menjalani umrah, sehingga lama di Tanah Suci dan tidak mau diganggu, Pak.” Istrinya mencoba menghibur.

“Tetapi seharusnya dia sudah pulang, Bu. Jangan-jangan dia sakit di Tanah Suci?”

“Kalau dia sakit; pasti menelefon, dong. Kita kan orangtuanya.”

Pak Madi semakin cemas. Sejak Ramadan, kebiasaannya membaca koran setiap pagi dihentikan. Begitu juga kebiasaannya menonton tayangan berita siang di televisi juga dihentikan. Sepanjang hari Pak Madi terus memperbanyak zikir dan bertasbih.

Dengan menahan cemas, pagi itu Pak Madi mencoba membuka koran yang baru saja diantar loper. Matanya langsung terbelalak membaca berita di halaman muka.

Nama putranya tertulis dengan huruf besar sebagai tersangka korupsi uang negara miliaran rupiah dan sekarang dinyatakan sebagai buron atau masuk Daftar Pencarian Orang.

Dada Pak Madi langsung terasa nyeri. Dipanggilnya istrinya yang sibuk mengamati gambar-gambar desain busana baru yang dimuat di majalah. Ketika istrinya mendekat, Pak Madi langsung menyuruhnya membaca berita di halaman koran itu.

Istrinya terperanjat. “Pasti berita ini fitnah, Pak. Tak mungkin anak kita melakukan korupsi.”

“Sekarang tidak bisa sembarangan memuat berita fitnah, Bu. Berita ini pasti benar, sehingga ditempatkan di halaman muka.”

Istrinya menangis.

Dada Pak Madi semakin nyeri. Ingin segera bangkit dan berbaring di kamar tidurnya, tapi tiba-tiba sekujur tubuhnya tidak bertenaga lagi. Ingin juga bicara lagi, tapi mulutnya tiba-tiba menjadi kaku.

Arsip Cerpen di Indonesia