Pecel

Ia mempraktikkan resep penjual pecel pinggir jalan, dekat gang, dengan para pembeli bermobil dan rela antre. Ia meniru resep pemberian perempuan udik yang semringah, bersemangat, dan baik hati itu. Sayang, hanya beberapa hari ia bertahan mengulek. Hari-hari selanjutnya ulekan ia serahterimakan ke pembantu. Teryata benar, meski takaran sama, ia yang meracik, menakar, hasil ulekan berbeda, bermuara pada rasa: jelas beda. Pembantunya mengulek secara tergesa dan pecelnya tak berasa seperti yang didamba.

Demi rasa cinta pada suaminya yang suka pecel, ia membolak-balik buku resep masakan, menonton video orang demo membuat pecel. Hingga suatu ketika teman masa kecil menelepon.

“Aku tahu orang jualan pecel paling enak, Jeng Ajeng.”

“Di mana?”

“Kantin sekolah kita. Besok kutunggu kau di sana. Oke?”

“Baiklah. Aku akan datang sendiri.”

Bertemu teman masa kecil, dia mencicipi kuliner pecel desa. Ia terperangah. Ternyata rasa pecel itu luar biasa. Gurih, paduan kacang dan bumbunya pas. Pedasnya segar di lidah. Dan sayurannya matang, digigit masih berasa sayuran segar. Kontan ia mendatangi dapur pemilik restoran pecel yang konon sering didatangi pejabat dan para sosialita.

Bahkan beberapa pesohor yang kerap beraksi teve atau bioskop mampir saat berkunjung ke kota kecil diapit dua gunung dan pantai indah itu.

“Bolehkah kami tahu apa resep pecel ini?”

“Tentu boleh. Namun ini rahasia kami turun-menurun. Kalau kami menceritakan, bisa-bisa leluhur kami marah dan jualan kami sepi.”

“Apakah ada cara lain supaya saya tahu resepnya dan leluhurmu tak marah?”

Teman masa kecilnya negosiasi. Bicara empat mata. Akhirnya pemilik mau berbagi resep, dengan catatan ia harus memberikan segepok uang sebagai jaminan. Ia tak keberatan.

“Resepnya berada di bumbu kacang pecel. Kami mengolah dari kacang yang hanya tumbuh di daerah kami. Kacang kami rasanya sangat gurih, sangat beda dari kacang yang tumbuh di daerah lain.”

“Hanya itu?”

Arsip Cerpen di Indonesia