“Tentu saja tidak. Pengolahan memegang peran penting. Percuma jika kacang berkualitas tinggi tapi mengolahnya salah kaprah.”
“Bisa menjelaskan lebih mudah supaya kami paham.”
“Kacang bermutu tinggi kami cuci dengan air mengalir. Kemudian kami tiriskan, lalu kami siram sebentar dengan air mendidih. Diamkan satu jam. Kemudian kacang kami kupas. Kami bumbui dengan bumbu rahasia. Lalu kacang kami sangrai. Kacang itulah yang kami jadikan bahan bumbu pecel.”
Ia mengangguk, pulang ke kotanya, ke rumah dan mempraktikkan resep dari warung tersohor di kota kecil diapit gunung dan pantai itu. Entah karena ia lupa atau ada aturan yang terbolak- balik dia kerjakan, pecel yang dia hasilkan biasa-biasa saja. Ia mencicipi dan rasanya tak beda dari pecel bikinan dia selama ini. Namun seperti biasa, si suami menikmati pecel itu. Lahap, tanpa keluh-kesah.
Ia tetap terobsesi mencari resep pecel paling enak. Suatu hari ia melihat menu pecel di media online. Terlihat menggiurkan. Ia memesan. Selang satu jam muncul seorang gadis belia mengantarkan pesanan: pecel terenak di dunia!
Ia bersorak saat mencicipi pecel yang teramat enak itu. Ia yakin suaminya pasti sangat menyukai.
“Siapa yang membuat pecel ini?”
“Saya. Saya yang membikin, Ibu.”
“Semuda ini kau bisa membuat pecel seenak ini? Siapa yang mengajari kamu? Ibu, nenek, atau….”
“Saya belajar sendiri. Saya memadumadankan aneka resep pecel. Saya menakar bumbu dengan rasa.”
“Rasa.”
“Ya, rasa cinta. Saya bikin pecel dengan riang gembira dan cinta. Saya berharap orang yang memakan pecel saya merasakan apa yang saya pikirkan. Ternyata banyak yang menyukai pecel saya.”
Ia termangu. Untung, si gadis belia bisa membuat pecel seenak itu. Seandainya gadis belia itu dia, alangkah beruntung.
“Berapa keuntungan kaudapat dari jualan pecel?”
“Cukuplah, Ibu. Saya bisa membiayai kuliah, membantu orang tua, dan punya sedikit tabungan.”
“Hebat!”