Seperti biasa ia meminta resep pembuatan pecel paling enak. Ia, si gadis belia, tanpa sungkan-sungkan berbagi rahasia bikin pecel enak.
Ia mencatat dan kali ini berharap pecelnya benar-benar enak.
Ia pulang tanpa mengetuk pintu. Ia memanggil suaminya seperti biasa saat pulang. Namun tak ada sahutan. Mungkin suaminya tertidur. Ia bergegas ke kamarnya. Lelah dan saat gerah seperti ini paling asyik mandi, berendam air hangat-hangat kuku, kemudian setelah itu ke dapur untuk resep pecel terenak.
Ia membuka pintu dan mengucek mata. Apakah ini mimpi? Ia melihat suaminya sedang mengulek bumbu pecel di atas ranjang. Sementara dua perempuan tengah memetik sayuran dan mengulumkannya pada sang suami.
Suaminya terengah-engah, kepedasan seperti saat makan pecel. Ia berpegangan ke dinding, sebelum merasa air matanya mengucur, dan menjelma seperti bumbu pecel. (44)
Â
Kota Ukir, 2 Februari 2017-13 Maret 2018
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1970. Cerpen, esai, dan puisinya dimuat berbagai media cetak dan online. Buku fiksinya Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, dan Bintang Panjer Sore. Bermukim di Jepara, bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).