Sebelum penyerangan dilakukan oleh jenderal Orgado yang didukung oleh kerajaan-kerajaan bawahan. Rush pergi mengendarai kuda hitam dengan bagian leher sampai ke kaki depan putih. Ia terus memacu kudanya dengan kecepatan maksimal. Kuda terus meringkik, berlari melawati jalan yang dikelilingi pohon-pohon cemara dan pohon pinus. Daun jatuh terbawa angin menimpa pundak Rush.
Rush begitu tampak gagah memakai baju besi, terselip di pinggangnya sebuah pedang. Pelindung kepala besi. Ia sudah memakai seragam perang lengkap. Ia memasuki sebuah perkampungan yang tak jauh dari pusat kota. Dari kejauhan ia melihat Delina yang mungkin sudah menunggunya.
Di halaman rumah sederhana Delina dan Rush bertemu. Rush turun dari kudanya, menghampiri Delina yang dari tadi sudah tersirat dari raut wajahnya menyimpan kecemasan. Ia mengangkat tangan Delina kemudian mencium dengan ciuman hangat terselip rasa cemas. “Berjanjilah kepadaku, jika perang usai, kau akan menikahiku. Dan, aku tak pernah lupa akan janji untuk membawaku ke Kota Khayalan. Kau pernah berkata, tidak ada kota yang membuat kebahagiaan itu tumbuh subur dengan alami kecuali berada di kota Khayalan,” ucap gadis berambut hitam berombak itu. Delina menatap Rushdengan mata berkaca-kaca dengan penuh harap.
“Tentu saja Delina. Aku akan mengajakmu pergi ke kota dengan seribu pesona. Kau bisa lihat keindahan desain gedung-gedung menyerupai gedung-gedung surga. Kau bisa lihat sungai yang membelah kota. Airnya sangat jernih. Sangat sejuk. Kabut-kabut menutupi permukaan sungai. Di sebelah utara sungai terdapat gereja Mattias yang menjadi saksi bisu terciptanya kota kebahagiaan ini. Di atasnya ada jembatan yang menghubungkan dua kota yakni kota Khayalan dan kota Obida di sisi utara. Aku akan mengajakmu untuk naik sampan menyusuri aliran sungai Hendregan seperti angsa putih yang memadu kasih.”
“Apa kau tidak ingin berpikir dulu sebelum bertindak? Mengapa kau tetap ingin melindungi raja yang rakus seperti itu?”
“Aku tidak membela raja yang tidak benar tetapi aku ingin mempertahankan tanah air sampai titik darah penghabisan. Aku hanya ingin teguh pada prinsip. Itulah cara kesatria untuk membela harga dirinya.” Sebelum pamit, ada rasa yang membuat keduanya tampak tak bisa menutupi kesedihan dan kecemasan.
“Berjanjilah untuk kembali untukku dan kota ini,” ucap Delina.