Sungai Hendegran

Pasukan pemberontak sudah siap untuk menggempur pasukan militer istana. Bukan karena memiliki pasukan yang kuat. Bukan juga karena memiliki pasukan yang berjumlah besar atau memiliki senjata yang tangguh tetapi lebih kepada semangat untuk melakukan perubahan. Perubahan untuk mengakhiri dinasti yang lalim. Jenderal Orgado yang memimpin penyerang itu. Sebelum matahari terbit pasukan-pasukan Jenderal Orgado sudah akan mengepung seluruh penjuru istana.

Jenderal Orgado dikenal sebagai prajurit pilih tanding. Memiliki segudang pengalaman dalam olah keprajuritan. Dukungan-dukungan oleh beberapa kerajaan bawahan menjadi dan suku-suku pribumi ikut serta menyumbang tenaga bahkan nyawa sekalipun membuat dirinya mantap untuk memberontak.

Panji-panji bendera kerajaan Gundarsi terus mengelebat seiring dibawa pasukan-pasukan berkuda. Suara ringikan kuda terus terdengar bersama langkah-langkah menggema prajurit tang sudah siap mati untuk mempertahankan kedaulatan negeri. Rush memimpin pasukan diikuti oleh beberapa jenderal di samping kanan kirinya.

“Pantang untuk bersikap medua. Pantang bagi prajurit takut dengan musuh. Kalau ada yang takut atau ragu, aku persilakan untuk mundur sekarang juga. Kita tidak menerima prajurit yang penakut. Kalian boleh benci kepada siapa pun, tetapi belalah negerimu. Pertahankan negeri.” Demikian ucapan Rush untuk membakar semangat para pasukannya.

Matahari merangkak naik dari kandungan cakrawala. Suara trompet terdengar menggema. Kuda meringkik. Suara mortil membentak. Pedang saling beradu. Beberapa kali terlihat para prajurit meraung kesakitan setelah terkena tebasan pedang jenderal Orgado. Dalam perang hanya menyisakan dua pilihan, hidup atau mati.

Sekawanan burung Hering beterbangan berputar-putar menunggu mayat-mayat prajurit yang gugur. Burung-burung itu seperti sudah menjadi pertanda akan ada dinasti yang runtuh. Pasukan pemberontak menyerang dari berbagai arah sehingga pasukan istana terdesak. Ada satu dua burung Hering yang bertengger di salah satu pedang yang tertancap di tubuh prajurit. Sementara pasukan istana semakin terdesak. Semakin kewalahan mendapat serangan bergelombang dari pasukan kubu pemberontak.

Rush sebagai jenderal perang berusaha untuk tetap tenang meskipun banyak bala tentaranya yang gugur. Jenderal Orgado dan tentaranya sudah berhasil merangsek di jantung pertahanan lawan. Kedua jenderal bertemu. Pertarungan sengit terjadi ketika kedua jenderal perang andalan istana itu bertemu.

Sementara itu, keadaan semakin genting. Pasukan pemberontak berhasil masuk ke gerbang istana. Meskipun berbagai upaya pasukan penjaga istana untuk menghadang, tetapi tidak mampu untuk menahan ratusan pasukan pemberontakan untuk masuk ke dalam istana. Pasukan itu seperti air bah yang tidak bisa dihadang. Suara sangkakala dibunyikan, pertanda jenderal Rush telah gugur. Sementara raja Matthew sudah tertangkap, digiring keluar dan siap untuk dijebloskan ke penjara.

***

Arsip Cerpen di Indonesia