Sungai Hendegran

Setelah tahu kematian kekasihnya, Delina merasa langit telah runtuh. Pandangannya berkunang-kunang. Dalam sekejap tubuhnya lemas. Rubuh seketika. Mengerikan, lebih sakit ditinggalkan daripada meninggalkan. Hari demi hari ia lewati dengan jiwa yang hancur. Demikian pula dengan penduduk, semakin menderita dengan rezim yang otoriter. Mencekik rakyat dengan upeti yang semakin besar. Sementara kesejahteraan rakyat terpinggirkan oleh kepentingan pembesar-pembesar istana.

Kota Khayalan lusuh dan muram. Gerimis-gerimis kecil pemalu seperti gadis yang kehilangan kekasih. Seorang gadis duduk di kursi panjang. Menghadap ke barat, tangan terlipat. Mata sebam, berair. Tak ada yang bisu kecuali mulut yang terus bungkam. Tak tahu apa yang sedang dipikirkan seorang gadis yang menampilkan raut wajah bekas-bekas kesedihan dan kemalangan hidup. Sungai Hedegran melambai-lambai. Kabut menutup sebagian pemandangan kota Khayalan. Kota yang terkenal karena keindahannya tampak menyedihkan seiring mendung menggulung. Kau tahu gadis itu adalah Delina.

Delina bangkit dari duduknya, mengayunkan kakinya perlahan. Terus perlahan. Sampai ke dasar sungai. Betisnya basah oleh rendaman air. Terus melangkah. Dan kemudian lenyap.

Aku tidak bisa menyalahkan kau, karena tidak bisa menghentikan langkah Delina untuk menceburkan tubuhnya ke sungai Hedegran. Biarlah Delina bahagia dengan pilihannya. Kau hanya bisa menjadi saksi jika sungai Hedegran telah memusnahkan kesedihan seorang gadis. Beruntung sekali kau diciptakan sebagai pohon pinus dekat sungai Hedegran.

 

Anas S Malo, anggota Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), ini telah menerbitkan karyanya di sejumlah media massa. Cerpennya terhimpun dalam antologi Doa dalam Cinta, Sayembara Cerpen Nasional. Ia juga finalis National Community Investors Award 2018.

Arsip Cerpen di Indonesia