Bedak dan Lipstik

Setelah matahari mulai berjalan di atas kepala, yang dilakukan Kang Darmin hanya diam dan menunggu matahari tergelincir menjadi senja. Memang enak hidup Kang Darmin. Selalunya menjadi raja di rumahku. Makanan dihidangkan, juga kopi tidak pernah terlambat di cangkirnya.

Aku dan Kang Darmin sekarang menempati rumah dengan ukuran kurang lebih 10 meter x 6 meter. Dengan atap seng dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Tragis, memang sangat tragis. Bagaimana tidak, ini jerih payahku setelah menikah. Berbentuk rumah kediaman sederhana. Meskipun aku adalah anak dari orang tua yang berkecukupan, tapi aku tak bisa terus-terusan merepotkan orang tuaku. Alih-alih sabar menantikan kebahagiaan, inilah hasilnya.

Sekarang ini, merawat tubuh saja sudah tidak karuan lagi. Kala mentari memanggilku, aku sudah bergelut di kebun. Sudah lelah aku meminta pada Kang Darmin. Setiap kali Kang Darmin ingin menjawabnya, aku sudah tahu jawabannya. Tapi kadang aku juga berharap Kang Darmin itu sadar. Sekali-kali dia memberi, tidak meminta.

Aku sudah bersamanya sekitar 10 tahun, yang diharapkanku hanya berhenti bekerja setelah menikah. Tapi bukan itu saja, aku juga ingin memakai lipstik dan bedak dari uang Kang Darmin. Beberapa waktu lalu diberitakan juga ingin memakai lipstik dan bedak dari uang Kang Darmin. Selebihnya itu bonus untukku.

“Kang, cobalah ke kebun jagung, mungkin sudah waktunya dipanen!” perintahku.

Ya, Kang Darmin hanya memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Barangkali dia ingin membelikanku lipstik atau bedak. Sudah lama Kang Darmin tidak memandangiku seperti ini. Aku tersenyum malu.

Sampai hari ini aku berdiri di hadapan Kang Darmin tidak pernah membayangkan keinginanku akan terwujudkan setelah 10 tahun aku dinikahinya. Ya Tuhan, apakah Engkau sudah mencairkan kebekuan hati Kang Darmin?

“Esok kamu tidak usah peigi ke kebun lagi!” kata Kang Dannin.

“Kalau aku tidak ke kebun, bagaimana kita akan makan, Kang?” tanyaku.

Kang Darmin tersenyum. Melihat senyumnya yang meyakinkan, mana mungkin aku mengkhianatinya. Rasanya aku sedang bermimpi, Kang Darmin memerhatikanku sangat detail. Seharusnya dari dulu Kang Darmin seperti ini.

***

Arsip Cerpen di Indonesia