Sudah malam. Suasana di rumah begitu hening. Juga temaram malam yang senantiasa menghiasinya. Badanku terasa letih, kuputuskan untuk berbaring di ranjang. Berharap letihku akan cepat musnah. Tidak terbayang sekalipun, kecupan hangat tiba-tiba mendarat di pipiku. Benar, memang Kang Darminlah yang memberiku kecupan hangat itu.
“Ini bedak dan lipstik untukmu!” kata Kang Darmin sembari menyodorkan lipstik dan bedak dari tangannya.
“Benarkah itu, Kang. Terima kasih.” Balasku dengan senyuman.
“Setiap hari kau boleh memakainya, begitu malam ini. Segeralah kau pakai bedak dan lipstik itu. Kang Darmin tidak sabar melihat istriku yang cantik!”
Tiba-tiba tubuhku ringan layaknya robot. Aku menuruti saja perkataannya. Mungkin Kang Darmin memang benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Hingga kataku dalam hati Kang Darmin mengetahuinya.
“Istriku memang cantik sekali! Memang aku tak salah memilihmu,” ujar Kang Darmin.
“Kang Darmin bisa saja,” sahutku pada Kang Darmin.
Malam ini aku dibuat melayang-layang oleh Kang Darmin. Baru kali ini, Kang Darmin berkata begitu manis padaku. Tubuh letihku serasa hilang tanpa bekas.
“Ikutlah denganku malam ini! Akan aku tunjukkan sesuatu untukmu!”
Lagi, aku benar-benar seperti robot.Tanpa kata atau tanya, aku mengikuti saja kata Kang Darmin. Hatiku berbunga. Darahku mengalir cepat. Jantungku berdebar amat kencang. Seperti pertemuan pertamaku dengan Kang Darmin kala itu.
“Kita akan ke mana, Kang? Sepertinya tidak asing dengan jalanan ini,” ujar aku pada Kang Darmin sembari mengingat-ingat.
“Ya tentu tidak asing. Ini menuju rumahku,” balas Kang Darmin.
Setelah lamanya pernikahanku dengan Kang Darmin, ini kali aku dibawa lagi ke rumahnya. Aku rindu sekali dengan ibu Kang Darmin. Bagaimana tidak, ibu mertuaku teramat sayang padaku. Acapkali aku bertamu ke rumah Kang Darmin, ibu mertuaku selalu membuka tangannya untukku. Perkataannya ramah dan selalu menyanjungku. Itu yang membuatku rindu.
“Ibu Kang Darmin mana? Kok tidak kelihatan?” sahutku.