“Ibu sudah lama meninggal. Sekitar 3 tahun yang lalu,” balas Kang Darmin.
Tidak menyangka, Kang Darmin tak memberitahuku akan kepergian ibu Kang Darmin. Hatiku benar-benar terpukul. Ibu mertuaku yang teramat baik, pergi meninggalkanku.
“Kenapa Kang Darmin tidak memberitahuku sebelumnya?”
“Aku tak ingin melihatmu sedih,” singkat kata Kang Darmin.
Kulihat di teras rumah sudah ada ayah mertuaku. Seperti biasa dengan rambut yang kelimis dan tertata rapi. Aku pun memberi salam dan mencium tangannya sebagai penghormatan antara aku dan ayah mertua.
“Inikan yang ayah inginkan!” sahut Kang Darmin.
“Memang benar-benar cantik istrimu, Min! Tidak salah aku menitipkan padamu,” kata Ayah mertuaku.
Aku tidak paham percakapan antara Kang Darmin dan ayah mertuaku. Yang aku bingungkan, mengapa ayah mertuaku itu menyebutku sebagai titipan. Apa maksud semua ini? Ah, mungkin aku hanya salah dengar tadi. Tapi yang aku dengar tadi teramat jelas bukan?
Aku dan Kang Darmin pun berjingkrak ke ruang tamu. Yang aku herankan, kenapa ayah mertuaku yang duduk di sebelahku sedangkan Kang Darmin malah masuk ke dalam kamar.
“Rasti kamu bingung dengan semua ini bukan? Ya, ini adalah rencanaku dan rencana Darmin,” sahut ayah mertuaku.
“Maksud Ayah?” balasku singkat berbuih penasaran.