“Buk, aku tahun depan tetap gantikan ibu Jadi TKW kok, Bu. Tahun depan, sesuai rencana setelah kelulusan.”
“Berhenti kamu bicara. Urusi dulu itu isi dalam perutmu.”
Ibuku kaget. Ibu mundur beberapa langkah. Aku ikut terguncang di dalam sini. Ibuku mengobrol dengan orang yang dipanggilnya Buk. Nada bicara ibuku melunak. Ibu ketakutan sekali.
***
Jika ditanya, aku sebenarnya ingin menyusul teman bermainku saja. Aku ada tapi sesungguhnya tak seorang pun mengharapkan kehadiranku. Aku pun tak pernah tersebut dalam doa untuk hadir apalagi diharapkan untuk membahagiakan banyak orang. Tak pernah kurasakan ibu membelai atau ayah sesekali saja membacakan dongeng untukku. Aku ingin luruh, keluar dari sini. Gelap.
Bapak bilang ke ibu bahwa ia sudah membeli alat seharga Rp 21 ribu. Isinya ada 24. Bapak dan ibu sudah menggunakan benda itu sebanyak 7 kali menurut cerita, tak dilanjutkan lagi sejak aku ada.
Sepengetahuan mereka, dengan alat itu, ibu dan bapakku tak perlu khawatir tentang kehadiranku. Ibuku tetap bisa melanjutkan sekolah dan lulus SMA tahun depan. Bapak tentu bisa terus mencari pekerjaan yang sudah bertahun-tahun tak dimilikinya, bapak pengangguran. Meski tak punya pekerjaan, bapak gemar membakar kretek, sehari ia terus mengepul asap di wajah sebagai hiburan bagi dirinya sendiri. Kau tahu bukan, menertawakan nasib dengan mengobrol pada diri sendiri memang sangat menghibur hati.
Peristiwa itu kali pertama untuk ibuku. Ia dengan malu-malu membuka, semen tara bapak sepertinya hanya mengaku-ngaku saja bahwa itu juga kali pertama baginya. Saat ibu pulang sekolah, bapak sudah menunggu di dalam rumah. Kata bapak, ia hanya ingin menumpang minum dan istirahat sebentar saja, kemudian meminta untuk menumpang tidur malam itu karena kecapean jika harus berkendara pulang. Ibu kebingungan dan hanya bisa mengiyakan. Mudah sekali Ibu untuk mengiyakan ajakan bapak untuk kali kedua dan seterusnya.
***
“Pokoknya jangan menikah dengan dia. Sudah cukup ibuk saja yang mengalami kejahatan lelaki bejat seperti bapakmu.”
“Kumohon, Buk.”