Sambil menunggu bapak, ibu memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari. Ia teringat telepon genggam yang diambil tadi sore, ia membuka pesan dan membaca beberapa sekadar membunuh waktu. Isi pesan masuk hampir seluruh dari seseorang bernama Pak Rusli. Ibu buka beberapa pesannya, ia membacakan untukku sebagai dongeng malam ini.
“Kenapa tak kau beritahu anakmu kalau Par itu bajingan. Dia pernah menggodamu, dia hampir menyetubuhimu waktu itu sebelum kau berangkat. Dia pun punya hutang yang tak kunjung dibayar padamu. Kau ceritakan lengkap pada anakmu. Biar dia sadar ibunya melindunginya. Aku tahu kau menjaga perasaannya, tapi jangan bodoh. Cepat kau beritahu anakmu.”
Ibu berlari ke kamar sebelah. Dadanya sesak, nafasnya tak beraturan. Rasanya dunia berhenti saat itu, tapi waktu memang bukan teman yang baik. Ibu melihat ibuknya telah berlumur darah. Ia sudah melepas nyawanya dan Par tersenyum pada calon istrinya dan anaknya karena telah menyelesaikan tugas dengan baik.
Ibu lupa pesan yang tertulis di pintu masuk kamar sendiri, jangan pernah bermimpi menjadi ibu yang baik dengan cara menjahati ibumu sendiri. Itu melawan semesta. ***
Ria Lestari Baso, kelahiran Bulukumba, 2 Desember 1994. Selain menulis juga hobi fotografer. Domisili di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.