Pesan Seharga Rp 21 Ribu

“Kau tak ingat, enam tahun lalu bapakmu meninggalkan kita. Ibuk yang bekerja sebagai TKW ini hanya bisa percaya pada bapak untuk menjagamu. Tapi apa ha? Ia pergi membawa harta kita, basil kerja keras ibuk dan hilang entah ke mana.”

“Par itu tidak seperti bapak, Buk.”

“Bocah kamu. Sudah lebih pintar dari ibuk sekarang? Mau makan apa kau nanti? Jangan pernah kau menikah dengan si Par itu. Tak sudi ibuk.”

“Buk, aku mencintai Par.”

***

Dua hari lagi kata ibu aku akan lahir. Aku akan melihat dunia, menatap seperti apa rupa ibu dan bapak. Aku akhirnya tak merasa sendirian lagi. Ibu juga sudah mulai sering membelaiku. Dalam tebakanku, ibu sudah mulai menyayangiku. Ia berjanji akan membuatkan aku ranjang yang paling nyaman dan membelikanku pakaian terbaik. Ibu mulai berubah, ia menerima kehadiranku. Ibu bercerita tentang keluarga impiannya, ia akan menjadi ibu yang membesarkanku dan mengantarkanku ke sekolah nantinya.

Aku tersentak.

“Pokoknya setelah melahirkan nanti, bayimu langsung ibuk bawa ke kampung Tanen. Kau lupakan saja pernah mengandungnya. Kau lanjutkan sekolah dan tahun depan tetap bisa menggantikan ibuk ke Taiwan. Bayi itu aib, tak ada untung memilikinya. Sudah syukur ibuk tak minta kau menggugurkannya.”

“Buk, aku ingin jadi ibu.”

“Ibuk tak butuh persetujuanmu untuk melakukan itu. Percayalah, Par yang kau cintai itu adalah lelaki biadab, ia hanya akan menyusahkanmu.”

***

Besok hari lahirku. Hari ini ibu banyak sekali bergerak, seharian ini pula kudengar suara bapak mengobrol dengan ibu.

“Ini, datanglah pukul 10 malam nanti. Masuk lewat jendela kamarku saja.”

“Kau yakin melakukan ini?”

“Iya. demi kita.”

Siang ini ibuk sibuk membersihkan seluruh rumah, dirapikannya seluruh barang-barang. Ia juga mengambil surat dan barang penting dari kamar sebelah, termasuk mengambil telepon genggam yang lerletak di meja ruang tamu.

“Masuklah. Aku tunggu kau di sini. Setelah melakukannya aku menunggumu di kamar ini, kita bisa tetap menetap di sini selamanya. Jangan lama-lama ya. Aku membutuhkanmu.”

Arsip Cerpen di Indonesia