Cerpen Ajeng Maharani (Padang Ekspres, 01 Juli 2018)

KATA nenekku, dulu, ada seorang lelaki
yang pernah mencuri langit biru di atas desa
kami…
1/
Mula-mula, seekor burung memekik layaknya kepedihan yang meraung di pagi yang gelap gulita itu. Pria-pria terjingkat seketika dari mimpi-mimpi basah, dan perempuan-perempuan menjadi tergeragap di samping mereka, mengelap sisa liur yang kuyup di ujung bibir. Pagi yang masih temaram itu menjadi hiruk. Orang-orang terbangun, dan menemukan seorang lelaki telanjang dada sedang berkacak pinggang di tengah-tengah desa dengan memanggul samurai tumpul di bahunya. Rambut lelaki itu teracak-acak, seolah baru bertarung melawan seekor singa jantan yang teramat ganas. Ia baru saja memukul-mukul kentongan kayu, lalu orang-orang tunggang-langgang menghampirinya dengan mata yang masih rabun dan nyawa yang setengah-setengah.
“Ada apa, Bandit? Mengapa kau membangunkan kami semua?” tanya seorang perempuan tua yang memiliki sakit punggung menahun. Perempuan tua itu sampai menahan kencing pagi hari demi mengetahui siapa gerangan yang merusak ketenangan seluruh desa.
“Ya, Bandit, kenapa kau memukul kentongan? Apa ada maling, genderuwo, atau ninja?” tanya seorang pria tambun.
Dicerca pertanyaan penduduk desa, lelaki itu masih bungkam dan bergeming, tapi tatapannya tajam menusuk. Satu per satu wajah ditekuninya. Seolah marah. Seolah ingin menelan seluruh warga desa.
Orang-orang mulai merasa khawatir pada kesenyapan lelaki itu. Mereka mulai berbisik, menggaruk-garuk kepala, gelisah.