4/
Rumah Bandit menjadi yang paling benderang di kampung itu sekarang. Langit biru, dengan sinar matahari yang begitu hangat, menggantung indah di dalam tempat itu. Burung-burung berkeciap dan bunga-bunga penuh warna tumbuh subur di sana. Orang-orang semakin membenci Bandit, tetapi tidak satu pun, di antara para pembenci itu, yang berani merebut langit dari Bandit. Hingga suatu hari, seorang gadis belia, yang begitu penasaran dengan kisahkisah Bandit, dengan berani mendatangi rumah itu.
Mula-mula, di suatu malam yang paling senyap, gadis belia itu mengendap-endap di halaman rumah Bandit. Tidak terdengar apa pun, atau tercium apa pun, dari dalam rumah, gadis belia itu semakin penasaran. Dalam pikirannya, ia menimbun pertanyaan, apakah benar Bandit bersama perempuan dan telah melahirkan bocah-bocah seperti yang dihikayatkan oleh warga kampung? Jika itu benar, alangkah beruntungnya perempuan itu, dicintai sedemikian rupa oleh lelaki yang telah mampu menembus kemustahilan demi dirinya. Lalu diam-diam, gadis belia itu berkeinginan agar kelak ia pun dicintai seorang lelaki macam Bandit.
Malam terus merayap. Dengan lihai, gadis belia itu berhasil mendekati dinding kayu, lalu mencari-cari celah yang sedikit lebih besar, agar bola matanya yang sejernih bintang itu mampu melihat isi rumah Bandit.
Dada gadis belia itu berdentum cepat. Semakin cepat. Ia telah menemukan satu celah yang paling lebar. Kebahagiaan itu meletup. Ditempelkan matanya. Menekuni. Mengamati lamat-lamat. Cahaya terang benderang itu menyilaukan mata, tetapi ia tidak menyerah. Ia ingin melihat Bandit. Ingin melihat perempuan Bandit. Juga bocah-bocah yang telah dilahirkan oleh perempuan Bandit.
Lama dan begitu tekun ia telah mengelilingi isi gubuk itu. Tercenung. Hingga kemudian, ia memilih untuk beranjak pulang dan menemui neneknya yang memiliki sakit punggung menahun dan menceritakan perihal apa yang dilihatnya di dalam rumah Bandit.
“Tidak ada perempuan di rumah Bandit, Nek. Tidak ada seorang pun perempuan di rumah Bandit. Atau pun bocah-bocah.” []
Ajeng Maharani, penikmat sastra yang lahir di Surabaya. Buku kumpulan cerpennya: Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan (Penerbit Basabasi – 2017)