Kebingungan terus bersenggama dengan kegelapan dan kasak-kusuk warga desa, hingga kemudian lelaki itu membuka mulutnya dan berteriak, “Aku telah kehilangan perempuanku! Aku telah kehilangan perempuanku!”
Orang-orang mendadak bisu seketika. Wajah mereka memucat.
“Katakan padaku, di mana perempuanku. Siapa yang menculik perempuanku?”
Bandit mendelik marah. Bola matanya seakan ingin keluar dan mengintip isi kepala orang-orang di hadapannya itu, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaannya. Malam yang teramat terang benderang di dalam rumahnya itu, sebelum pagi yang dihirukkannya dengan kentongan dan samurai tumpul itu datang, Bandit tahu perempuannya ada di sampingnya. Mereka baru saja menuliskan sebuah kisah cinta yang bergairah di tubuh-tubuh mereka. Tapi ketika ia membuka mata, perempuan itu lenyap.
Bandit tahu salah satu dari orang-orang desa itu telah menculik perempuannya, tapi ia tidak tahu siapa. Ia bangkit dari ranjang yang kusut masai dan meraih samurai tumpulnya yang tertanam di dinding kamar, lalu lesat keluar rumah.
“Tenanglah, Nak Bandit. Tidak ada yang menculik perempuanmu. Kami semua sedang tidur, dan terbangun karena keributan yang kau buat-buat ini,” ucap Kepala Desa yang semenjak tadi menyembunyikan kumisnya di punggung istrinya.
“Ya, Bandit. Tidak ada yang berbuat itu. Mungkin kau sedang bermimpi,” sahut seorang perempuan muda.