Seorang Lelaki dalam Hikayat Kami

2/

Namanya Bandit. Lelaki itu berkata, demi seorang perempuan, ia akan mencuri langit biru milik Tuhan. Orang-orang desa menyebut dirinya tidak waras, tapi Bandit sama sekali tidak memedulikan suara-suara yang dilemparkan ke punggungnya itu.

Bandit datang tanpa asal-muasal di desa itu, demikian kata nenekku. Tiba-tiba saja pemuda itu muncul dan menetap, lalu membangun sebuah rumah kayu sederhana di samping hutan jati, di sisi barat desa. Bandit melakukan pekerjaan apa pun untuk mendapatkan uang; buruh tani, buruh angkut di pasar, kuli bangunan, berjualan arang keliling, pengepul kayu bakar di hutan. Orang-orang menyukai Bandit karena ia ramah dan tekun dan tidak pernah mengeluh.

Suatu ketika, ia berlarian ke penjuru desa dengan berkata: Aku jatuh cinta! Aku jatuh cinta! Aku sudah menikah!

Warga desa menyambutnya dengan riang gembira. Mereka ingin segera melihat, perempuan mana yang telah memikat hati seorang Bandit yang ramah dan tekun dan tidak pernah mengeluh itu. Maka berbondong-bondonglah mereka di suatu petang, dengan obor-obor dan keriuhan bahagia, untuk menjumpai Bandit di depan rumahnya, tapi Bandit dengan malu-malu melarang mereka. Ia bilang, belum saatnya untuk melihat. “Suatu hari nanti, aku pasti akan mengenalkannya pada kalian semua,” ujar Bandit.

Kala itu, dengan melipat kekecewaan, warga desa pulang dengan khidmat dan tidak lagi mempertanyakan perihal perempuan yang dinikahi Bandit, sampai lelaki itu berkenan untuk menampilkannya ke seluruh warga, layaknya memamerkan barang antik. Namun berhari-hari kemudian, Bandit tidak pernah muncul kembali.

Arsip Cerpen di Indonesia