Seorang Lelaki dalam Hikayat Kami

“Mungkin Bandit tengah asyik membuat bocah,” ujar salah satu warga.

“Atau mungkin sedang pulang ke desa istrinya dan lupa jalan pulang,” sahut seorang warga yang lain dengan tertawa-tawa.

“Atau jangan-jangan, Bandit sedang sakit?”

“Atau justru istrinya yang sakit?”

Orang-orang mulai berspekulasi dengan pendapat-pendapatnya sendiri, tetapi tidak satu pun yang berani mendatangi rumah kayu di tepi hutan jati itu. Waktu terus berlalu, pembicaraan perkara Bandit dan perempuannya mulai surut, dan perlahan-lahan, mereka semua mulai melupakan segalanya.

3/

Suatu siang, Bandit kembali muncul ketika warga desa yang dulu mempergunjingkannya itu telah beranak-pinak. Mereka gembira layaknya bertemu sebuah kerinduan yang terlupa. Tapi di hari itu Bandit mengejutkan semuanya. “Aku akan meminjam langit biru pada Tuhan. Perempuanku menginginkannya,” ucap Bandit dengan dada congkak. Mereka semua menertawainya. Mengolok-olok. Mengatainya tidak waras.

“Mana mungkin kau bisa menggapai langit dan meminjamnya dari Tuhan, Bandit?”

“Tentu saja bisa! Demi seorang perempuan, seorang lelaki harus pantang menyerah menjalani kemustahilan.”

Tanpa memedulikan segala olokan, Bandit terus melangkah. Ia menaiki bukit tertinggi di desa. Ia terus naik, dan naik. Semakin naik, dan naik. Hingga akhirnya, tangan-tangan kekarnya itu menggapai langit biru dan menggulung cepat-cepat. Bandit bersegera pulang, dan desa mulai diliputi kegelapan abadi yang membuat seluruh warganya dirundung cemas dan ketakutan.

Arsip Cerpen di Indonesia