Seorang Lelaki dalam Hikayat Kami

“Omong kosong! Aku tahu kalianlah pelakunya. Kalian tidak suka aku dan perempuanku bersama, bukan?” Bandit menebaskan samurainya ke udara, membuat beberapa orang di depannya tergeragap mundur. Perempuan-perempuan memekik takut dan pria-pria hampir dibuat kencing di celana kolor mereka.

“Tenanglah, Nak Bandit. Tenang,” ujar Kepala Desa kembali, dengan suara yang gemetar. “Mari kita bicara baik-baik.”

“Bagaimana aku bisa tenang, Pak Kepala Desa? Seseorang menculik perempuan yang kucintai dan aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya pada perempuanku!”

“Tapi, Nak Bandit, apa kau sedang mengigau?” tanya perempuan tua yang memiliki sakit punggung menahun itu.

Bandit mengernyitkan dahi, menekuri wajah perempuan tua. “Mengigau?” tanyanya.

Perempuan tua itu menjawab, “Ya, kau pasti sedang mimpi, Nak.”

“Mimpi? Apa maksudmu, Nek? Katakan dengan jelas!”

Perempuan tua itu hendak kembali membuka mulut, tetapi seseorang menarik lengannya dari arah belakang. Perempuan tua itu menoleh. Ia melihat seorang pria yang tengah menggeleng-geleng. Lalu orang-orang lain juga menggeleng, tapi perempuan tua itu tidak menghiraukan gelengan. Dengan dada tua yang ditegap-tegapkan, perempuan tua itu kembali berpaling ke arah Bandit yang telah menanti sebuah jawaban.

“Dengarlah, Bandit. Sesungguhnya, kau tidak pernah memiliki seorang perempuan di sampingmu. Jadi bisakah kau sekarang mengembalikan langit biru beserta matahari yang telah kau curi itu, Bandit?”

Arsip Cerpen di Indonesia