Seperti dua hari lalu. Segerombolan manusia itu setia menanti segala hal yang keluar dari mulut seorang manusia laki-laki sama sepertiku. Ini sudah yang kesekian kalinya. Kulit-kulit kepala mengering tersengat panas matahari musim kemarau tak lagi mereka hiraukan. Aku sedikit lebih beruntung. Bayangan pohon durian ini melindungi diriku yang duduk dibawahnya.
“Saudara-saudaraku sekalian. Jika saya menjadi kepala desa kalian yang baru, saya berjanji akan memajukan desa ini. Saya akan membuat seluruh warga desa aman, damai dan tenteram! Untuk itu, jangan ragu untuk pilih saya, saudara-saudara sekalian!!!” Teriak laki-laki bertubuh tambun dan sedikit pendek dari pentas kayu balai desa.
“Hidup Pak Kadi… Hidup Pak Kadi…!!!” balas warga menyahut. Aku hanya tersenyum mendengar mereka saling sahut. Kuamati lelaki ini lekat-lekat. Jika saja bapakku tidak mati, dia pasti sudah setua lelaki ini.
“Saya akan mengatasi segala masalah, menghilangkan kemiskinan dan saya berjanji untuk tetap menjaga perdamaian di kampung ini.” Sorakan dan tepukan tangan menggema memenuhi balai desa.
“Lihatlah, untuk menjadi manusia, kau hanya butuh makan banyak gula.” kataku pada pohon durian tua itu.
“Aku bukan manusia!” jawabnya setika.
“Ya, beruntunglah kalian, bukan berjenis manusia. Lihatlah laki-laki tambun di depan sana, sedari tadi dia mengoceh. Setiap dia berkata, dari mulutnya selalu keluar gula-gula. Apakah kata-kata bisa berubah sebegitu manisnya?” Suasana di antara kami mendadak hening. Mungkin pohon durian tua ini butuh waktu untuk menjawabnya.
Segerombolan manusia lain yang tak mendengarkan orasi dari laki-laki bertubuh tambun itu memiliki kesibukan sendiri. Mereka berjalan mengikuti pemimpinnya. Tak lupa sembari mengelu-elukan namanya. Keriuhan di balai desa sama sekali tak mereka hiraukan.
“Lanjutkan Pak Dani… Lanjutkan!” teriak mereka yang berjalan di belakang pemimpinnya. Seorang laki-laki yang sama tuanya dengan lelaki bertubuh tambun yang sedang berdiri di balai desa kala itu.
Berbeda dengan lelaki bertubuh tambun. Lelaki ini teramat jarang mengumpulkan pengikutnya di balai desa. Dia lebih sering berbicara sambil berjalan berkeliling kampung. Seruannya tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan lelaki bertubuh tambun itu. Suaranya lebih keras dari pengeras suara di langgar ujung kampung yang biasa digunakan untuk seruan ibadah warga Kampung Durian. Wajah lelaki ini bersinar. Entahlah, yang pasti aku menyukai wajah lelaki ini. Sinar wajahnya memancar, hingga wajah pucat para pengikutnya ikut bercahaya.