Pohon Durian Tua

Embun pagi belum lagi mengering dari balik hijau dedaunan. Sinar mentari menenerabas melalui celah-celah dedaunan terjatuh tepat di wajahku. Seketika saja mataku terbuka. Tubuhku yang semula terbaring di bawah pohon durian tua mulai kubangunkan. Ramai suara gesekan alas kaki yang menyentuh tanah menusuk tajam ke liang telingaku.

Perempuan-perempuan pembawa bakul sambil menggendong anaknya berlari-lari kecil. Para lelaki pembawa cangkul di pundaknya tergesa-gesa melangkahkan kakinya  menuju balai desa. Tak seorang pun di antara mereka melintas di hadapanku mau menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Ketegangan menjelma ramai hingga seluruh pojok Kampung Durian. Orang-orang yang tadinya berlalu-lalang di hadapanku kini berkerumun di balai desa. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang dijajarkan. Wajah-wajah yang sebelumnya pucat hari ini menjadi wajah-wajah penuh tegang serta penuh harap. Hari ini pula kulihat kedua kelompok manusia yang saling mendiamkan itu berada dalam satu tempat.

Hanya beberapa orang saja yang berdiri di belakang panggung balai desa. Pak tua bertubuh tambun dan laki-laki dengan sinar di wajah, berdiri paling depan di antara warga Kampung Durian. Mereka berdua memakai pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Keduanya saling berjabat tangan tanpa senyum. Begitupun dengan pengikut mereka. Mungkin kesombongan telah membuat sudut-sudut bibir kaku, sehingga senyum pun enggan muncul dari sana.

Matahari tepat di puncak kepala, mereka masih memenuhi balai desa. Bahkan orang-orang makin bertambah. Satu persatu orang-orang keluar-masuk sembari membawa kertas ke dalam ruangan kecil persegi di sudut balai desa.

Mereka masuk dengan wajah tegang dan keluar dengan ketegangan yang lebih lagi. Malah aku yang merasa takut jika saja urat-urat wajah mereka terlepas dari tempatnya. Sungguh! Kali ini rasa penasaran memaksaku untuk menerobos kumpulan manusia itu dan mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Kulangkahkan kakiku menuju kerumunan. Aku berjalan di antara orang-orang yang masih duduk menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan persegi itu. Salah seorang anak kecil yang berada di gendongan ibunya tiba-tiba menangis. Ibunya yang tersadar jika anaknya menangis karena melihatku langsung berteriak, “Orang gila!!! Orang gila ini masuk balai desa!”

Demi memenuhi hasrat, aku langsung berlari keruangan kecil persegi itu. Suara teriakan tak lagi kuhiraukan. Telingaku sudah tuli dikata-katai. Aku tak ingin mereka menyeretku dengan amukan seperti sebelum-sebelumnya ketika aku juga ingin mengetahui keramaian yang sedang terjadi.

Arsip Cerpen di Indonesia