Dengan ketidakwarasanku yang waras. Tawaku meledak seketika begitu aku tahu yang dilakukan mereka di balik kotak persegi itu. Mereka menikam wajah para pemimpin yang mereka elu-elukan namanya selama ini. Kertas-kertas bergambar wajah itu berlubang. Tepat di bagian wajahnya!
Aku merasa menang. Aku menari dan tertawa sehebat mungkin. Tawaku diiringi teriakan-teriakan warga yang ketakutan. Keriuhan terjadi. Warga berhamburan tak beraturan. Tak terkecuali kedua lelaki tua itu. Anak-anak menangis. Ada yang sampai terjatuh dari gendongan ibunya.
Aku tak henti tertawa, hingga seseorang tanpa sengaja kakinya tersangkut pada kabel penghubung arus listrik dan pengeras suara. Kabel yang hampir terputus mengeluarkan api dan langsung menyulut tumpukan kertas di dekatnya. Teriakan panik makin menggema seiring makin meluasnya kobaran api. Angin yang berhembus kencang di tengah hari membantu menghanguskan balai desa. Siraman air dari ember-ember kecil warga tak mampumembinasakannya.
Mereka tiba-tiba menyeretku. Dari mulut mereka kudengar tuduhan-tuduhan. Akulah penyebab semua keributan ini. Tawaku seketika terhenti. Bukan karena tuduhan mereka. Karena api terus berkobar ikut menyambar pohon durian tua di sampingnya. Pohon durian tua yang sudah tidak berbuah lagi, akhirnya ikut terbakar. Membara dari akar, hingga pucuk-pucuk ranting.
Aku melangkah gontai menuju pohon durian itu. Kudengar jeritnya lebih menyayat daripada jeritan warga.
“Biarkan saja orang gila itu!!! Biar dia mati terbakar bersama pohon duriannya!!!” teriak mereka. Kuteruskan langkah sembari menertawai mereka.
Binjai, Mei 2018