Pohon Durian Tua

Itu hanya wajah. Bisa saja dia membayar tukang pasang listrik untuk menyinari wajahnya. Pak tua ini juga manusia. Manusia bisa lebih berbahaya dari serigala lapar. Mereka akan memakan apa saja bahkan tak ragu memangsa sesamanya.

“Bukan itu masalahnya. Lihatlah, apakah manusia-manusia berwajah pucat yang berkerumun itu sanggup menampung semua gula-gula yang meluber dari mulut lelaki itu?” ujar pohon durian tiba-tiba.

“Oh tidak. Tentu tidak bisa. Mereka manusia, bukan Lebah!” jawab burung Pipit yang tiba-tiba bertengger di dahan pohon di atasku.

“Sudah untung mereka tidak memaku tubuhmu dan menggantung wajah mereka di sana, wahai pohon tua.” sambungnya.

Benar kata sang Pipit. Beberapa bulan ini juga setiap tempat di penuhi dengan kertas bergambar wajah kedua orang tua itu. Mereka meletakkannya di kedua sisi gapura. Menjadi pintu masuk kampung, pohon mangga sudut lapangan tempat anak-anak kampung bermain bola. Tak terkecuali di dinding wc umum dekat tali air pembatas Kampung Durian dengan kampung sebelah. Andai saja mereka juga membuat orang-orangan sawah serupa kedua orang tua itu, pasti petani-petani itu akan aman. Tarian orang-orangan bertubuh tambun dan berwajah terang, sudah pasti menakuti burung-burung pemakan padi. Bahkan dapat menakuti tikus dan hama lain yang membuat harga beras murah bagi tengkulak.

“Lalu dengan wajah itu?” ujarku.

“Itu sinar harapan. Seperti bulan yang memancarkan sinarnya, hingga sang pungguk selalu merindu ketika sinar itu menghilang.” jawab pipit.

“Ah, terima kasih burung yang bijak.”

“Tak ada yang bijak di dunia ini anak muda. Tak ada.” jawab Pipit sembari merentangkan sayap-sayap kecilnya.

Aku tertawa terbahak-bahak diiringi cuitan Pipit dan daun pohon durian yang bergesekan tertiup angin. Seluruh warga megalihkan pandangannya ke arahku. Mata mereka mencemooh.

Lihat saja, kampung ini akhirnya terbagi menjadi dua golongan orang-orang yang saling mendiamkan. Bukankah kedua lelaki itu telah mengatakan akan menjaga perdamaian? Ah, aku tak peduli dengan peristiwa kemarin itu. Malam semakin merangkak. Kurapatkan kedua kaki dan kupejamkan mata. Aku meringkuk di bawah pohon durian tua sembari mengejar mimpi.

***

Arsip Cerpen di Indonesia