Tak Ada Patung bagi Tapol

Nun di sana: seberang sebelah kiri adalah Kaki Air. Pintu masuk para tahanan politik (tapol), seperti dirinya, ke Waeapo, dulu. Dari Kapal ADRI, mereka pindah ke kapal-kapal kecil ukuran sekoci, memudiki Sungai Waeapo yang penuh ular dan buaya. Di muaranya, orang-orang Bugis yang menyingkir dari titah Kahar Muzakar mendirikan rumah-rumah bertiang kayu, menjadi kampung satu-satunya yang ditemui tapol saat digiring masuk ke pedalaman Buru. Di seberang kanan adalah Sanleko, di muara Sungai Waetele, tempat sebagian tapol mendarat.

Setelah pagi cerah membuka hari, Kamto ke luar pelabuhan mencari oto ke Waeapo. Ia sempat pangling melihat perkembangan Kota Namlea dengan jalan dua jalur, persimpangan, rumah dan toko-toko berderet. Dulu ia hanya mengenal Namlea lama yang sempit di bibir teluk, sementara kawasan atas hanya terdiri dari sebuah dusun yang meremangkan bulu kuduk: Jiku Kecil. Di situ terdapat penjara khusus bagi tapol yang dianggap bermasalah di unit-unit Waeapo. Ungkapan “di-jikukecil-kan” bagi tapol, sama artinya “di-sukabumi-kan” bagi kaum bertato—keduanya pada masa Soeharto.

Dulu, Kamto sering corvee ke Namlea, membawa kayu “gelap” milik oknum Dan Tefaat atau Dan Unit. Kayu-kayu gelondongan diikat seperti rakit, lalu dihanyutkan hingga ke Kaki Air. Tugasnya selesai sampai di situ, tapi tak jarang ada tugas tambahan mengantar padi dalam karung goni ke Namlea.

Melalui jalan darat ia pernah sekali-dua, tapi ia agak lupa jalurnya. Apalagi sekarang banyak jalur baru seperti yang ia lihat dari atas oto yang melaju.

Melewati Siahoni, hidung tuanya mencium aroma minyak kayu putih mengambang di udara, muncul begitu saja dari penyulingan tepi jalan. Seketika ia ingat saat menyuling di Ketel Timba. Itu semacam unit khusus di luar urusan padi sawah.

Melewati Jamilu ia ingat tuaknya yang manis. Gara-gara ini dulu ia dihajar Dan Unit. Waktu itu ia dengan berani, atau nekad, minta izin membuat tuak.

“Unit penyulingan kayu putih ada, tambak garam dan pembuatan gula aren juga sudah, kenapa tidak penyulingan tuak, Pak Komandan?” katanya berlagak pilon, jika bukan konyol. Benar saja, dengan menyebut “Pancasila dasar negara”, Dan Unit menghajar Kamto dengan popor senjata. Meski semua orang tahu sang komandan menyimpan minuman menyenangkan itu di posnya.

“Ee, apa masih ada tuak di Jamilu?” tiba-tiba Kamto bertanya kepada sopir. Para penumpang menoleh kepadanya. Ia sedikit merasa malu. “Maksud saya, apa polisi tidak merazianya?”

Arsip Cerpen di Indonesia