Sukamto Resbowo tidak mendapat kesempatan itu. Meskipun semua orang tahu ia adalah penyair yang bahkan saat ditangkap di Malioboro, Oktober 1965, ia baru membacakan sajak-sajak di manuskripnya yang kedua. Manuskrip itu dirampas militer, dan hidupnya sendiri dirampas dengan mengirimnya ke Nusa Kambangan. Sehari sebelum HUT ke-24 RI—16 Agustus 1969—bersama 800 tahanan ia digiring ke Pelabuhan Sodong, Wijayapura. Dalam lambung kapal ADRI XV yang karat, mereka dibawa ke Laut Banda dan berlabuh di Teluk Kayeli.
Ia tahu Yadiono dan Dasipin memutuskan tak pulang ke Jawa pasca dibebaskan. Mereka menetap di Waeapo sebagaimana ada ratusan tapol memutuskan demikian.
Sesungguhnya Kamto ingin langsung ke mako, ke tempat Dasipin. Namun begitu ia lihat lapangan Savanajaya yang hijau royo-royo, dengan gedung keseniannya yang masih berdiri, darahnya bergolak. Ia tak tahan untuk tak berhenti, meskipun belum ia tahu persis di mana rumah Yadiono kini.
***
TAPI tak sulit bagi Kamto mencari rumah kawan senasib. Rumah Yadiono persis di samping gedung kesenian yang sudah dipugar, di tepi lapangan. Di situ terdapat tugu berukir nama-nama petinggi militer dengan aneka pangkat dan jabatan mereka. Itu dibuat saat peresmian Savanajaya sebagai desa tapol yang berkeluarga, 1972.
Yadiono dan Kamto berangkulan. Mata mereka berkaca-kaca. Angin santer padang savana membuat mereka segera masuk ke rumah, lalu berkisah tak kalah santer tentang Jawa dan Buru; seolah itu dua dunia yang hendak menyatu. Berpuluh tahun tidak berjumpa rasanya tak bakal tuntas kisah dengan sekali duduk. Oleh karenanya, mereka langsung ke inti. Usia tua mengisyaratkan untuk tak banyak basa-basi dan nostalgi.
“Aku ingin mencari makam kawan kita, Abdul Latif. Lama sekali kuniatkan. Aku datang sendiri, pamit kepada anak-cucu. Aku merasa berdosa pada Latif. Bukan aku tapol-manopol, tapi karena keadaan. Kau tahu, pontong yang kami naiki dihantam banjir dan kami semua nyaris tenggelam…”
“Ya, semua orang unit tahu itu!” potong Yadiono.
“Tapi tak banyak yang tahu cerita sebenarnya….”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Yadiono tertarik ingin tahu.