“Saat kami menyeberang bersama Dan Unit, banjir besar menghantam pontong hingga talinya putus. Pontong seketika oleng, Dan Unit yang berat dengan pakaian seragam, tenggelam. Sia-sia menolongnya karena kami semua juga akan mati seandainya Latif tidak berhasil menangkap ujung tali. Latif mengikatkan ke pinggangnya, lalu berenang ke tepi. Ia berhasil mengikat tali itu di pohon salawaku sehingga pontong tertahan. Kami 12 orang selamat, termasuk tiga tonwal. Tapi Latif sendiri terkapar. Pinggangnya patah, perutnya penuh air. Ia meninggal sebelum dibawa ke klinik.”
“Lalu?” Yadiono kian tertarik.
“Setelah itu, kau sendiri tahu, aku dipanggil ke mako mewakili kawan-kawan yang selamat, menyampaikan kesaksian. Aku ingin sampaikan bahwa Dan Unit jatuh tenggelam, dan Latif meninggal setelah berjuang menyelamatkan penumpang lain. Tapi tiga orang tonwal mem-brifing kami. Jangan katakan Dan Unit tak bisa berenang! Katakan bahwa ia telah berusaha menyelamatkan Latif, tapi hanya berhasil 12 orang dengan taruhan nyawanya sendiri. Itulah yang terpaksa kusampaikan. Aku berdosa, dan ingin berziarah ke makam Latif di bawah pohon salawaku,” suara Kamto bergetar haru.
“Kita bisa ke sana sekarang. Ajak Dasipin,” Yadiono bangkit bersiap.
Tak lama, berangkatlah dua orang tua itu menyusuri jalur Savanajaya-mako sepanjang 20 km. Yadiono masih kuat bersepeda motor karena setiap hari ia mengajar musik di SMA 3 Buru dengan berkendara sendirian.
Bersama Dasipin—perjumpaan mereka tak kalah menggetarkan—tiga mantan tapol itu pergi ke tepian Air Mandidih. Tapi makam Abdul Latif tak ditemukan. “Telah menyatu rata dengan tanah,” bisik Dasipin. “Ikhlaskan,” tambah Yadiono.
Pohon salawaku sebagai penanda juga sudah tak ada. Hanya di sana, dekat rumah pamali, tegak sebuah patung menghadap Sungai Waeapo yang bergelora. Lengkap dengan prasasti batu granit: Berkorban dengan kesatria. Dan Unit Pelda Sumirat. Prajurit Saptamargais menyelamatkan 12 jiwa pontong tenggelam Air Mandidih.