Halaman Berstabilo Pink

“Baguslah! Lagi pula sendiri nggak harus jones, alias jomblo ngenes. Sepanjang kita bisa mengisinya dengan hal-hal positif. Yah, anggap saja jodoh kita sedang disembunyikan oleh Tuhan hingga saatnya matang nanti kita dipertemukan. Karena di tempat terpisah, dia pun sedang sibuk berbenah diri. Bukankah itu lebih baik? Positif bertemu positif, dobel positif dong, ha ha ha….” tawa Arneta. Resti berusaha mengimbanginya.

Arneta terlihat sudah berpengalaman dalam menilai cowok. Ternyata pada kemudian hari diketahui dia sudah tiga kali putus sambung dengan gebetannya. Dan sekarang mereka tetap bertahan. Salut!

Waktu terus bergulir. Resti mengisi halaman demi halaman dengan penuh suka cita. Bu Anggi, guru bahasa Indonesia, serasa mendukung suasana hatinya saat mengumumkan penggalakkan budaya literasi, di antaranya dengan membiasakan menulis.

“Resti, kamu sekarang rajin menulis,” tukas mama penuh curiga, beberapa kali masuk kamar melihat putri bungsunya berkutat denganku. “Mama ingin kamu sekolah dulu, Res. Belum waktunya kamu seperti kedua kakakmu yang sudah mahasiswa. Mereka sudah dewasa, tahu mana yang baik mana yang buruk.”

“Mama bicara apa sih? Ini tugas dari Bu Anggi, Ma. Bu Anggi….”

Mama manggut-manggut paham setelah mendengar penjelasannya. Resti tahu ke mana arah pembicaraan mama. Pasti soal cowok. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, Resti menulis hanya satu halaman per hari.

***

“Nggak ke kantin, Res?”

Suara tiba-tiba itu terdengar samar. Resti tak menggapai. Dia sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas. Setelah istirahat berganti pelajaran.

“Res… serius sekali sih?” ulangnya. Barulah Resti menoleh ketika suaranya terdengar jelas memanggil.

“Eh… Kak Arkan…” ungkapnya sambil tersipu malu, tidak menyangka cowok ganteng dengan tubuh kekar itu sudah berdiri di hadapannya.

“Nih, kacang bawang rasa asin, nyantai dululah,” tawar Arkan sembari duduk di samping Resti. Resti telah selesai merapikan buku-bukunya. Sebungkus kacang bawang berada di mejanya.

Tentu saja Resti mengurungkan ke kantin.Tidak saja karena kacang bawang, tapi terlebih kedatangan Arkan yang tidak disangka. Disamping perutnya belum begitu lapar karena masih istirahat pertama. Untung tadi dia menolak ajakan Arneta ke kantin.Sehingga dia berlama-lama berdua dengan Arkan. Di belakang, suara teman-temannya bersuit-suit dan berdehem-dehem. Resti tahu mereka sengaja menggoda.

“Makasih kacang bawangnya.”

Baca jugaHari Pertama Puasa bagi Fajar

Arsip Cerpen di Indonesia