Halaman Berstabilo Pink

Arkan pun melantunkan kalimat-kalimat bernada manis demi mengakrabi.

Semua angan berbuah manis. Arkan sesekali datang ke kelasnya, walau hanya untuk ber-say hello. Siapa yang bisa menampik. Terbukti seisi kelas yang menyaksikan terus mengomentari.Resti bakal mendapatkannya.

“Kamu beruntung, Res…”

“Cowok itu terus mendatangimu…”

“Kece… pandai pula…”

Semua itu diceritakan kepadaku dengan penuh rasa bangga.

***

Sampai pada halaman ke-201, tiba-tiba Resti masuk kamar. Tas sekolah dilempar begitu saja. Lalu diraihnya aku dan pulpen di atas meja belajarnya.

Hatiku sakit….

Sakit yang teramat dalam. Dada tengahku bagai ditusuk-tusuk. Arkan, yah… cowok yang sering mendatangiku dengan kata-kata manisnya yang setiap hari aku ceritakan, ternyata hanya membual.

Aku baru percaya kata-kata Arneta, Arkan penggemarnya banyak. Dan aku hanya pungguk merindukan bulan. Apa artinya diriku, gadis culun, nggak gaul, dibanding seseorang yang kini bersanding di sampingnya. Cakep, berambut panjang, tinggi semampai, begitu sempurna. Cocok sekali dengan Arkan.

Pertama aku melihat mereka berboncengan, kupikir gadis itu teman sekelas, atau siswi di sekolah ini. Karena kebetulan jalan bersama atau rumahnya searah. Sebagaimana aku sering melihat teman-teman lain saling tolong-menolong.

Hari ini telingaku harus kubuka lebar-lebar agar tak terus mengharapnya. Semua membicarakan kemesraan Arkan bersama cewek itu. Harus aku sembunyikan ke mana wajahku. Semua teman sekelas terlanjur tahu, kami bakal jadian.

Ternyata mereka setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersama. Seisi kelas meledek. Aku kecele. Arneta terus menghibur. Tapi apalah guna kata-katanya, tak mampu menutup rasa maluku.

Resti berlinangan air mata. Dan beberapa bagian halamanku yang ditulis pun basah.

Selanjutnya kisah yang ditulis kepiluan. Arkan mulai sibuk. Baik dengan segala kegiatan OSIS, maupun bersama cewek barunya. Seringkali mereka terlihat berdua. Sehingga kedatangannya di kelas Resti tidak lagi terasa istimewa. Sebaliknya lebih kepada keisengan belaka. Bahwa Arkan butuh menghibur diri di antara seabrek kegiatannya. Wajah Resti yang innocent lumayan untuk cuci mata. Duh!

Baca jugaRidho Anak Baru

Arsip Cerpen di Indonesia