Halaman Berstabilo Pink

Hari-hari kelabu terus memburu, sampai menjelang hari penentu. Usulan Mama tak mungkin dibantah bagi gadis seusianya.

“Ulang tahun, Ma?” ulang Resti di atas tempat tidur menjelang istirahat malam. Sontak matanya membelalak walau tetap oriental. Tanpa disangka ternyata mama sudah merencanakan matang pesta itu bersama kedua kakaknya.

“Iya, Res, nunggu pernikahan Kak Renita juga masih lama,” ledek Kak Regina.

“Skripsi aja belum kelar, nikah!” Kak Renita sewot.

“Apalagi aku, mahasiswa semester lima. Masa mau ngadain ulang tahun lagi. Udah nggak zamannya kan?” tambah Kak Regina lagi.

Mereka sibuk membicarakan pesta. Mereka ingin mengumpulkan teman-teman dekat. Sedikit pun tidak mengindahkan yang terjadi pada Resti. Hingga Resti ternganga tak sanggup membuat penolakan. Haruskah dia mengatakan yang sesungguhnya, bahwa pesta ulang tahun berarti membunuh karakternya sebagai remaja yang identik dengan dampingan pujaan hati. Arkan sudah terlanjur menjadi bagian dari kelas tempat Resti menuntut ilmu. Tapi sekarang Arkan milik orang lain.

Resti tersenyum pilu.

***

Hari yang dinanti tiba. Yah, dinanti semua anggota keluarga tapi tidak bagi Resti. Sedikitpun tak tertarik baju khusus pemberian mama. Gaun polos berbahan tile selutut tanpa lengan dengan pinggang berpita. Rambut, aksesaoris, hingga sepatu, semua Kak Renita dan Kak Regina yang sibuk mendandani. Mereka yang punya acara, bukan Resti. Sesekali Resti merespon dengan tersenyum. Tapi senyum yang menyiksa.

“Resti… tamu-tamu di luar sudah mulai datang,” panggil mama.

“Iya, Ma. Ini sudah selesai,” jawab Kak Regina.

Kak Regina dan Kak Renita mengiringinya keluar kamar.

Lagu sakral happy berthday pun melantun. Terdengar sambutan, kemeriahan, dan tepuk tangan, khas pesta ulang tahun. Pasti perasaan Resti tercabik-cabik melihat teman-temannya hadir bersama pasangannya. Sementara Resti…

Setelah sekian lama, Resti masuk ke kamar. Dengan masih berdandan ala putri barby yang serba pink, warna kesukaannya, dia senyum-senym. Resti menemukan kegairahannya. Itu membuatku penasaran.

Seperti biasa Resti meraih pulpen. Lalu segera menulis.

Kamu pasti tidak menyangka kenyataan yang baru saja aku alami. Ketika tiba-tiba seseorang menyodorkan tangan kanannya lalu mengucapkan selamat ulang tahun. Dan kamu tahu siapa dia? Arkan! Cowok yang sempat membuat hidupku hancur. Aku terngaga. Untung aku segera dapat menguasai diri.

Arsip Cerpen di Indonesia