Termasuk ibu kita. Tubuh hamilnya terbaring lemah di atas klotok. Persis saat melewati ulek Marabahan, ketubannya pecah. Di atas klotok itulah aku terpancar ke dunia, di atas air, di atas ulek yang berputar. Berpusaran. Dan di te-dngah pusaran itu ibu kita kehabisan darah, ulah ketaksabaranku.
Tapi katamu, kandungan ibu memang lemah. Maklum ibu sakit-sakitan sejak sawah-ladang kita kekeringan ulah penguasa hutan dan pihak perkebunan. Mereka menebang dan membakar hutan semaunya. Sedang sawah-ladang ibarat rahim bagi ibu kita. Jika siklus air-tanah-udara terganggu, maka terganggu pula kandungannya. Di atas segalanya, itulah takdir ibu, katamu. Tapi aku tahu kau menghiburku, sebagaimana kau tahu aku merasa berdosa, selamanya.
Aku lahir tak sempurna dan penyakitan, meski ungkapan ini tak kusuka. Aku sempurna, bahkan sangat sempurna, sebab bisa melihat apa yang tak orang lihat, dapat merasa apa yang orang tak merasakan. Aku tidak sakit, apalagi penyakitan. Tapi biarlah orang-orang menyebut demikian, dan lebih dari itu menganggap jiwaku terganggu. Kada waras. Dengan begitu, aku tak berguna dan berharap siapa pun lalu melupakanku.
Tinggal kau yang tersisa. Mereka ambil.
Tubuhmu yang kuat tak sanggup melawan, tapi sinar matamu tak padam. Kau diseret ke mobil patroli. Lengking sirene seolah pekik enggang yang mengiringi kepergianmu. Mengapa? Yang kutahu, kau melukai seorang mandor kebun. Dan bisik tetangga menambahkan: engkau menghasut orang membakar lahan sawit di perbatasan!
Tapi aku tak yakin kau menghasut. Meski kutahu kau suka membacakan puisimu di jalanan, di muka petani yang resah. Apakah kata-katamu berbisa? Aku justru percaya kata-katamu murni, kau rawat seperti ibu melahirkan. Ah, selalu aku ingat ibu!
***
Sama sepertimu, Aliman-cuma caranya berbeda-aku percaya bahwa kebun sawit yang dibuka hampir seluas bumi di banua, pertanda bala. Dan aku melihat apa yang tak dilihat orang: gelindingan kepala siluman! Warnanya hitam kemerahan, disodok galah-galah bertangkai panjang, jatuh menyeringai, bergelindingan. Aku kerap tergeragap melihatnya dinaikkan ke atas truk, lalu berteriak, “Kepala siluman, kepala siluman! Awas, kepala siluman, menggelinding lewat!”
Bahasaku tak seindah bahasamu, memang. Aku berteriak juga bukan di jalanan, tapi di hamparan sawit yang berbatas dengan cakrawala. Itu cukup membuat pekerja kebun terganggu. Mereka melengos mengenang kelakuanku dulu. Mereka seolah sepakat menganggapku tak pernah sembuh. Dulu, aku melihat ular-ular gelondongan, berderet dalam ikatan, diseret dari hulu ke kuala dan aku melawannya.