Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam

Ketika buah-buah aneh-ganjil menyumbul di ketiak pelepah, aku kembali tersiksa: buah-buah itu kian besar, terus membesar, warnanya hitam kemerahan. Itu semua tak ubahnya kepala siluman dalam cerita kai-nini kita. Kuyang! Siluman berkepala manusia dengan jeroan tubuh terburai. Bukan! Ini lebih menakutkan. Serupa mariaban! Siluman gaib berbulu lebat, berbadan besar dan matanya sembap kemerah-merahan!

Itulah yang membuat aku kembali berteriak, mengamuk. Kuhalangi jalan keluar-masuk truk dengan kayu dan batu-batu. Aku tantang para sopir dan para pekerja yang memegang galah-galah panjang. Karena mereka menganggap aku belum sepenuhnya sembuh, kambuh, atau tak bakal sembuh, maka mereka menggelandangku. Memasungku!

Engkau pulang-dari pengembaraanmu ke Banua Etam-dan geram mendapati aku terpasung di tengah rumah. Segera engkau bebaskan aku. Kau tuntun aku turun jenjang. Melihat kakiku yang pincang terhuyung-huyung, rasa sedih dan marahmu menyatu. Kau cari siapa saja yang telah memasungku. Kau cekal leher pambakal yang mengizinkan pendatang di kebun menyorongkan kayu pasungan ke kakiku.

“Ingat, kakakku waras, sangat waras. Kalian yang gila dan keterlaluan!” katamu di muka pambakal yang pura-pura insyaf. Ia mengutarakan dengan lunak sebuah fakta.

“Sejak kau pergi, Aliman, kakakmu Mujani uring-uringan. Ia berteriak-teriak di belakang rumah dan menghalangi jalan truk. Ia belum sembuh tampaknya, atau sulit sembuh. Dulu, bukankah ia juga begitu melihat kayu gelondongan? Ulun minta maaf.”

Maka kepada pambakal yang mengunjuk maaf, kau diam saja. Tapi terhadap seorang mandor yang tertawa melihat deritaku, kau hunuskan pedang panjang. Sabetan mandau-mu mencipratkan darah segar. Lalu terdengar tuduhan bahwa kau menghasut orang membakar kebun di perbatasan. Kepulanganmu dianggap pelarian. Sudah lari, berulah pula. Cukup alasanlah sepatu berderap mendatangi rumah-gubuk kita dinihari itu.

Begitulah kau mereka ambil. Tinggal aku yang tersisa. Tak berguna.

Tapi Julak pambakal tampaknya benar insyaf. Setelah kau dibawa pergi, Aliman, Julak pambakal mengantar aku ke Gambut. Mungkin saja ia takut akan balas dendammu jika kembali mengulangi cara lama, memasungku. Meskipun kini kau pergi ke tempat Jauuuh…Sekali, dan aku tak tahu kau di mana, tapi bayang-bayangmu yang kuat cukup membuat mereka yang ingin kembali memasungku, mengkerut.

***

Arsip Cerpen di Indonesia