Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam

Jadi aku kembali ke sini, Aliman, ke RSJD Sambang Lihum, pal 3,9 Banjarmasin-Gambut. Aku kembali bertemu Nahdiansyah, temanmu. Dialah yang memberiku kertas dan pena, memintaku menulis atau menggambar apa saja, termasuk rinduku kepadamu. Begitu cara ia menerapiku. Karena itu, seperti dulu, keadaanku cepat membaik. Bahkan Nahdiansyah kerap mengajakku jalan-jalan.

Hari ini, kawanmu yang baik itu memenuhi permintaanku untuk melepas kangen ke siring Barito, melihat ulek Marabahan yang berputar, tempat di mana aku dilahirkan. Aku ingin mengenang ibu kita yang meninggal di pusaran itu. Kurasa, ini juga terapi.

Kami duduk di warung makan, memesan ikan pepuyu dan aruan. Saat itu menjelang hari pasar. Di depan kami perahu-perahu membongkar muatan. Ada satu perahu membongkar barang pecah-belah, mengonggoknya di depan kami sehingga menutupi pandangan kami ke sungai. Ketika barang-barang itu diangkut ke dalam pasar, halangan terbuka, saat itulah aku melihat naga sisik hitam muncul dari kelokkan sungai!

Aku tergeragap. Terpana lama. Lalu kelojotan. Menendang-nendang. Mungkin seperti saat aku dilahirkan. Keheboan pasar berpindah ke warung yang kami masuki.

“Naga sisik hitam, naga sisik hitam, singkirkan, singkirkan….!!” Aku meronta.

Tentu aku sering melihat tongkang batubara seperti gunung diseret kapal dari hulu ke kuala, tapi pada hari itu aku melihatnya tidak biasa. Tongkang bukanlah tongkang, kapal bukanlah kapal dan batubara bukanlah batubara.

“Wah, tongkang batubara ia amsal naga sisik hitam,” bisik orang-orang.

“Ya, lempar dengan apa saja! Serang! Jangan sampai kalah!” aku mulai melempar gelas dan piring. Menyusul botol-botol kecap, teko, sendok, garpu, dan baki.

Meski kakiku setengah lumpuh dan sarafku bergetar, orang-orang tak mudah menaklukkanku. Bahkan puisi yang dibisikkan Nahdiansyah, berubah jadi mantra pembangkit gairah di telingaku. Aku makin liar melawan. Kubalikkan meja, kulemparkan isinya. Tapi naga sisik hitam itu alangkah jahanam, betapa tak menenggang. Ia terus melenggang lewat, dari Sungai Nagara menyimpang ke Sungai Barito, melewati ulek, arus pertemuan yang berputar, terus berputar. Seperti waktu. Susah-payah kutundukkan.

Aku tak ingat benar bagaimana dari Marabahan aku kembali sampai di Gambut, Aliman ai. Tubuhku mengambang. Tapi masih sempat kudengar gegas orang-orang mengangkatku ke mobil yang segera dipacu temanmu itu. Dan saat terbangun, di ruangan putih-putih, temanmu Nahdiansyah memberiku tambahan kertas kosong buat kutulisi. Jadi, catatanku mungkin akan berlanjut.

 

/Marabahan-Lansano,

Juli 2018

Arsip Cerpen di Indonesia