Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam

Sebab ular-ular itulah yang telah menelan abah kita, meski kepadaku dijelaskan bahwa beliau tewas dihantam pohon rebah. Tetap saja aku tak percaya. Aku merasa abah telah dipaksa atau terpaksa masuk hutan dikerahkan perusahaan kayu. Abah berburu pohon-pohon, dengan chain-saw dan gergaji yang menderu.

Ketika abah ditandu tak bernyawa ke luar hutan, sejak itulah aku melihat kayu-kayu yang hanyut di sungai menjelma jadi ular-ular gelondongan!

Ya, pohon-pohon itu menjelma jadi ular-ular raksasa di mataku, terhumbalang hanyut, licin, telanjang, mengerikan. Saat mandi di bawah pohon lua, aku tangkap buah kebuau dan aku lemparkan kepada ular-ular mengerikan itu, juga ke kapal-kapal penariknya yang menyebalkan. Setelah itu kulemparkan apa saja: pasir, potongan kayu, batu-batu. Belakangan kuambil semua yang dibawa orang ke tepian untuk dicuci: sendok, piring, gelas, dandang, ember, penggorengan, guci.

Melihat kenyataan itu, dengan berat hati, kau bawa aku ke rumah sakit jiwa di Gambut. Beruntung, aku disambut Nahdiansyah, sahabatmu yang bertugas di sana. Dia terapi aku dengan puisi sambil bercerita hubungannya denganmu. Kalian sama-sama kuliah di Yogya, meski ia selesai dan kau tidak. Dia bekerja di rumah sakit pemerintah, dan kau turun ke lapangan menyelidik pemerintah.

Hanya saja kalian dipertalikan oleh puisi. Kalian pernah menerbitkan kumpulan puisi berdua, kutahu, dan diam-diam kubaca. Maaf, aku juga suka membaca catatanmu yang berserakan di rumah, dan sedikit-banyak aku merasa ikut suka puisi. Puisi membawaku pergi dari derita tak bertepi. Itulah yang kurasakan, tiap kali Nahdiansyah membacakan puisi-puisinya kepadaku, hasratku pada hidup perlahan bangkit.

***

Secara adat berobat, terapi puisi seorang petugas rumah sakit jiwa membuatku sembuh cepat. Kau membawaku kembali pulang. Lalu kau tenang meninggalkanku di rumah. Lagi pula saat itu aku tahu ke mana engkau pergi. Bukan ke tempat Jauh Sekali, seperti saat ini, ‘kan Aliman? Ada pendampingan petani di Banua Etam, engkau bilang, dan kau pergi berbulan-bulan. Tak apa. Sebab yang kau perjuangkan sesuai yang kuinginkan.

Tapi bersamaan dengan itu, bekas hutan yang dibuka menjadi kebun sawit di kampung kita, mulai menghijau tumbuh. Sawit ditanam seluas mata memandang, dan waktu itu aku masih melihat ia selembut dan sejinak pohon kelapa. Daunnya melambai. Namun hari ke hari, pelepah-pelepahnya mulai mengeras, mengkal, serupa remaja yang berangkat dewasa dengan kenakalan dan keras kepala.

Arsip Cerpen di Indonesia