Membelah Rimba

Dengan menggeret koper dan mata melihat lurus ke depan pintu keluar. Hatiku mulai menari tarian tradisional Jawa Tengah yaitu tarian Ronggeng. Senyum dibibir hampir tumpah memenuhi wajah lelahku. Hingga tiba di perbatasan keluar, sosok lelaki yang sudah 1 tahun lebih menempati hatiku dan menemani hariku di meja sosial media nampak berjalan dengan raut melihat sekeliling. Aku melambai dan ia langsung tersenyum mengenaliku. Bilamana jantung ini berada di tepi laut mungkin sekarang sudah jatuh dan menyelam. Sebab kebahagiaan itu seketika besar hanya karena sosok yang dicinta di depan mata dengan tangan bertaut, senyum pun tidak pudar. Walau raut wajahnya sama denganku terlihat lelah akibat perjalanan.

“Bagaimana perjalanannya Bi? Bukankah harusnya jam 9 tiba,” tanyanya setelah kita hanya diam membisu sampai basi dan berlalat.

“Di bandara macet. Pesawatnya antri terbang,” jawabku jujur. Dan baru kuketahui bahwa di udara memang gak macet tapi di bandara itu yang macet saat ramainya pesawat akan lepas landas.

“Bagaimana rasanya naik pesawat?” tanyanya kembali dengan deretan gigi nampak sebab ia cengar cengir.

“Seperti katamu, sama seperti naik becak,” ucapku sekenanya. Ia pernah menjabarkan bagaimana rasanya naik pesawat sehingga aku hanya membenarkan saja apa menurutnya walaupun aku yang merasakan biasa saja namun aku suka saat akan lepas landas dan saat akan mendarat sensasinya terasa.

“Mau makan apa Bi?”

“Kamu bertanya atau menawarkan si Mas,” ucapku bingung dari ucapan singkatnya.

“Sama saja, jadi mau makan apa?” tanyanya di ulang.

“Bakso sama es kelapa.”

Selepas itu aku memilih bersandar dipunggung yang belum pernah tersentuh olehku.

Nyaman itu ada. Hangat itu terasa lebih dari yang kubayangkan. Rindu itu langsung merekah, menjadi butiran butiran rasa yang semakin besar. Terkutuklah sudah, bahwa saat ini berjumpa membuat cinta itu kian besar. Oh Tuhan….

Jangan jadikan aku seperti itik membutuhkan induknya.

***

Sore hari.

Kami menikmati arti rasa berkumpul bersama dengan kawan. Bakar ikan hasil memancing. Hingga kami mendebatkan berkata jujur atau bohong pada kedua orang tua Dian.

Arsip Cerpen di Indonesia