Membelah Rimba

Kita menaiki jalan yang sempit dan dikanan kiri rumput liar tinggi serta ranting ranting pohon menjalar seisi jalan. Kawan Dian memilih melaju lebih dulu dengan kecepatan tinggi sebab jika lamban akan mundur dan terjatuh. Hatiku kian ingin meledak melihat kawannya hampir terjatuh. Dengan tarikan napas, Dian mulai melajukan motornya dengan kencang pula. Aku menutup mata dan mendekap erat punggungnya. Mulutku komat kamit, kakiku yang setengah terekspos terasa pedih, sakit akibat tersambit rumput rumput yang tajam dan ranting ranting yang menjalar di sisi jalan.

Ujian pertama berhasil, namun tidak sampai di titik itu saja ternyata. Aku ternganga oleh jalanan dihadapanku.

Di hadapanku, genangan lumpur di sepanjang jalan sampai ke ujung tanjakan, lagi. Bahkan terlihat ada 2 motor terjebak dan sedang berusaha melaju. Oh Tuhan….

Apakah pemerintah melihat ini?

Aku bertanya diri sendiri. Sebab sejak aku memasuki hutan hingga di pertengahan, masih banyak yang melalui mungkin pekerja kebun yang di hutan ini.

“Aku turun saja ya Mas, di sisi hutan tidak banjir tuh….”

Aku menyarankan sekaligus agar ia bisa imbang dan tidak repot, lagi pula aku masih ingin hidup. Apa jadinya kalau jatuh tersungkur. Oh My God!

“Tidak usah! Jika jatuh kakimu di angkat ya, biar tidak kena knalpot motor,” ucapnya yang kujawab anggukan dan tidak membantah.

Setelah dua motor itu berhasil. Kawan Dian memilih lebih dulu untuk menerjang lumpur dan hasilnya di luar akalku. Ingin aku tertawa terbahak namun rasa kasihan memenuhi ronggaku. Melihat bagaimana mereka menerjang dengan kecepatan tinggi lantas jatuh karena terperosok jalan yang salah. Aku menjerit tertahan sebab tawaku hampir menggelegar melihat tubuh mereka penuh lumpur namun aku tak tega tertawa di atas kesusahan orang hingga mereka bangkit kembali dan melaju lagi.

Aku menanti keputusan jalan mana yang akan Dian pilih. Hatiku kian trampolin dag dig dug takut akan senasib dengan mereka. Apalah aku ini wanita, bagaimana mungkin memperlihatkan kecantikan kepada calon mertua jika aku bermandi lumpur. Matilah aku!

Dan ternyata….

Dian memilih menerjang rimba.

Membelah pohon pohon besar.

Menabrak dedaunan dan ranting.

Meliuk-liuk agar bisa keluar dari lembah dahan. Terkutuklah sudah!

Kita bermandi daun rontok.

Semut semut hitam ada di sekujur kaki, muka terasa merah. Kepala tak beraturan. Lengan tergores ranting.

Nasib….

Arsip Cerpen di Indonesia