Membelah Rimba

Kita melalui arti ganasnya menerjang dan melalui hutan.

Kami berjumpa pada sungai yang bening. Di desa yang sudah memasuki udara dingin. Aku berteriak bahagia, karena terbiasa hidup di kota jarang bertemu atau bermain sungai yang jernih.

Tanpa mempedulikan udara yang begitu dingin, dan air yang dingin. Aku mencoba berendam dan membilas segala kotor lumpur pada baju dan celana. Kerudungku sudah tidak tertata rapi namun setidaknya tidak lusuh. Selepas kami mencuci motor, melajulah kami dengan damai sebab sudah keluar dari hutan.

Rumah rumah panggung berjejer.

Terlihat banyak orang sedang menjemur kopi dan ada pula lada. Ya, Lampung Barat terkenal kental kaya akan kopi. Dalam perjalanan menuju tempat tinggal kekasihku. Hatiku berjuta pertanyaan pada diri sendiri, ‘siapkah aku?’ ‘Apakah mereka akan menerimaku?’ ‘Apa tidak berdosa jika berbohong?’ Matilah otakku dengan segala persepsi sendiri.

Saat tiba dan berjumpa pada wanita paruh baya yang tidak lain ibu kekasihku. Dengan hormat aku menyalami, “assalamualaikum, Bu, saya—” ucapanku belum tuntas namun Sarjuli lebih dulu menyela dan memperkenalkanku namun mampu menohok hatiku terdalam.

“Kenalkan Bintang namanya, dia koncoku, Bu.”

Dalam bahasa Indonesia (temanku).

Kosakata yang sudah kurancang dalam pikiran kini lenyap sudah tak berbekas. Wajahku memamerkan senyum manis namun dalam menangis teriris. ‘Kau ternyata memilih enggan memperkenalkan aku sebagai kekasih bahkan calon istrimu, baiklah sepertinya hubungan kita hanya bisa bagai mawar di pucuk layu’ batinku menangis tersedu melaung laung bahasa luka.

Kenangan kita hanya sampai pada saat kita membelah rimba, dan seterusnya kita dua insan orang asing yang sama saat kita belum berkenalan. Semoga kau senantiasa selalu bahagia, mantan!. (*)

 

Maula Nur Baety lahir di Brebes, Jawa Tengah. Menyukai cerpen dan puisi sejak 2 tahun lalu. Dan sedang proses menulis novel dengan judul ‘TE AMO’ beberapa karya karya puisi dan cerpen ada di media online dan cetak.

Arsip Cerpen di Indonesia