Baca juga: Surga di Kolong Ranjang – Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Media Indonesia, 25 Februari 2018)
“Engkau tampak lebih bersemangat akhir-akhir ini,” goda Vyas–rekan kerja yang bekerja seruangan dengan saya. “Sepertinya benturan di kepalamu itu baik untukmu,” Vyas tersenyum sambil menahan tawa, “apakah akan berpengaruh baik juga buatku?”
“Kita tidak akan pernah tahu, Vyas. Engkau harus mencobanya terlebih dahulu.”
Perempuan yang usianya sepantaran saya itu tertawa renyah. Ia mengusap keningnya, seakan-akan tengah membayangkan sebuah benjolan yang menempel di sana. Vyas memang selalu seperti itu. Ia kerap membayangkan sesuatu yang menurutnya lucu. Akan tetapi, tawa renyahnya kali ini sedikit mengusik pikiran saya. Seolah-olah tawanya itu memicu kembali perasaan ganjil yang bersemayam dalam benak saya beberapa hari belakangan ini.
Saya merasa, sepertinya saya sering melihat Vyas tertawa lepas seperti itu. Ya, tentu saja saya sering melihatnya tertawa seperti itu–bagaimanapun, Vyas adalah rekan kerja yang bekerja seruangan dengan saya. Akan tetapi, yang saya maksudkan sekarang ini sungguh berbeda. Maksud saya, sepertinya saya sering melihat Vyas tertawa seperti itu, tapi entah di mana.
“Engkau pasti sangat merindukannya, ya, kan?”
“Maaf, kenapa?” saya terkesiap, kemudian menoleh ke arahnya.
“Edd. Kalian sangat dekat. Engkau pasti sedang merindukan Edd, ya, kan?”
Saya kembali memandang ke depan, ke arah meja kosong yang terletak di antara meja saya dan Vyas. Meja kosong itu berhadap-hadapan dengan meja kami berdua. Meja kosong itu tempat Edd dulu bekerja. Sudah hampir sebulan meja itu belum terisi kembali. Dan, pekerjaan-pekerjaan yang semestinya dikerjakan oleh Edd sementara waktu dilimpahkan kepada saya dan Vyas.
“Iya. Edd kawan yang baik.”
Sebelum Edd meninggal, ruangan ini biasa dihuni oleh kami bertiga. Sama-sama m e n g e m b a n tugas supervisi penjualan yang masing-masing berbeda divisi. Vyas di divisi pasar tradisional, saya di divisi pasar modern, dan Edd khusus menangani penjualan produk ke hotel, restoran, dan kantin.
Kami bertiga merupakan rekan kerja yang kompak. Saling bantu satu sama lain walau berbeda-beda divisi. Dan, kami juga saling mengenal karakter satu sama lain–empat tahun sudah kami bersama-sama di ruangan ini. Saya sangat meyakini hal itu. Hanya saja, sejak tiga hari belakangan ini, saya kesulitan mengingat wajah Edd. Entah mengapa, setiap saya menyebut namanya dan mencoba mengingat Edd, yang saya temukan di benak saya cuma sekelumit gambaran buram dan berbayang. Membuat kepala saya terasa pusing dan agak berat.
***