Bukan Saya

Baca juga: Menunggu Salju Turun di Jakarta – Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Koran Tempo, 07-08 Januari 2018)

Ia masih kesal. Saya dapat merasakannya. Sebab, seharian ini, ia banyak melontarkan kata: terserah. Dan, menurut Vyas–dua hari kemarin saya sempat menanyai pendapatnya tentang hal ini, perempuan yang sering mengatakan kata terserah pada satu waktu tertentu–dan bukan ke-biasaan dirinya, itu artinya: perempuan tersebut sedang jengkel. Apalagi kalau kata terserah itu ia ucapkan dengan pelan lalu tersenyum tipis. “Jika seperti itu, apa artinya?” tanya saya lagi.

“Itu artinya: engkau dalam masalah besar, teman!”

Seharusnya tak perlu saya tanyakan hal ini kepada Vyas, karena sebenarnya saya sudah bisa menduganya mengapa istri saya bersikap demikian. Ini semua pasti gara-gara ketidak-mauan saya diperiksakan ke dokter. Pasti ia masih merasa khawatir. Akan tetapi, seperti yang berulang kali saya katakan kepadanya; saya baik-baik saja. Saya tidak merasakan sakit yang terlalu pada keesokan harinya. Sedangkan perih yang saya rasakan ketika benturan itu baru saja terjadi, menurut saya, rasa perihnya itu masih terbilang wajar. Tak perlu ia khawatirkan.

Saya mendekatinya yang sejak tadi berbaring memunggungi saya. Barangkali, cumbu rayu mampu meredakan kekesalannya kepada saya. Tanpa berpikir lama, saya tempelkan bibir saya pelan-pelan ke tengkuknya–setelah sebelumnya saya sibakkan rambutnya yang panjang dan bergelombang itu. Lalu, sebelah tangan saya tak lupa melingkari pinggangnya. Saya usap-usap perutnya sejenak, lantas, saya lanjutkan kembali upaya saya untuk membangkitkan gairahnya yang seminggu terakhir ini terabaikan oleh saya. Istri saya bereaksi. Kemudian, naluri purba kami masing-masinglah yang saling berbicara.

“Saya masih marah kepadamu,” ujarnya sembari mengelap keringat yang bertumbuhan di kening saya.

Saya hanya tersenyum, lalu terkulai di sampingnya bak seekor kelinci jantan kehabisan tenaga usai bertandang di tubuh betinanya. “Engkau jangan terlampau khawatir. Saya baik-baik saja,” balas saya agak terengah-engah.

Istri saya lalu menatap saya dengan kedua bola matanya yang tampak laksana dua perahu yang sedang mengarungi dua samudera yang amat tenang. Begitu dalam ia menatap saya. Dan, dengan tatapan yang sama pula saya menyambut tatapan sepasang matanya yang jernih itu. Untuk beberapa saat yang singkat, waktu seolah terhenti. Dan sesaat kemudian pula, saya beralih memandangi hidungnya, pipinya, serta dagunya yang sedikit tirus itu. Saya amati betul-betul tatkala perasaan ganjil yang masih terselubung dalam benak saya perlahan-lahan kembali muncul. Saya merasa, saya baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Menikmati sesuatu yang bukan milik saya. Betapa berdosanya saya sekarang ini, pikir saya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia