Baca juga: Tumbal Suramadu – Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 19 Februari 2012)
Kau tahu, kunjunganku kali ini juga untuk menghirup aroma melatimu sekaligus bercerita banyak tentang nasib sialku, sebagaimana biasanya.
Sebelum memasuki halaman, aku sudah lebih dulu memetik sekuntum melati dari luar pagar.
“Sarah, sini!” tanganmu melambai dari teras rumah begitu melihat kedatanganku. Pasti kau tengah mengiris rempah-rempah untuk jamu, pikirku.
Aku melangkah menyeberangi halaman yang tidak terlalu lebar dan berpagar pohon melati. Benar saja. Tanganmu berwarna kuning kunyit dan aroma berbagai macam rempah menyeruduk hidungku. Irisan rempah-rempah berbentuk bundar memenuhi baki di depanmu dan kau telah selesai mengiris semua.
“Tinggal menjemurnya besok,” katamu.
Aku tersenyum kagum.
“Tunggu sebentar, ya, aku cuci tangan dulu,” rempah-rempah kaubawa ke dalam bersama sebilah pisau dan telenan kayu.
Punggungmu hilang di balik pintu. Angin senja berembus dingin, menyapa wajahku.
Tidak berapa lama kau datang lagi dengan tangan yang sudah bersih namun wama kunyit masih lekat di sana. Wajahmu seceria biasanya.
“Aku iri padamu,” lirihku. Lalu kembali menciumi sekuntum melati di tangan. Menghirup wanginya dalam-dalam.
Tawamu meledak mendengar pengakuanku yang tiba-tiba.
Hanya sebentar. Tawamu tercabut dan kau menatapiku dengan alis terangkat, seakan kau berkata: aku siap menjadi pendengar.
Tentu kau sudah hafal kebiasaanku: jika datang kemari pastinya karena ada masalah rumit melilit.
“Tadi malam Sam memutuskan meninggalkanku. Ia memilih menjaga keutuhan rumah tangganya setelah semua didapat dariku,” kataku, mulai bercerita.
“Sudah berapa kali kubilang, lupakan Sam! Kau cantik, tentu mudah mendapatkan penggantinya!” cetusmu.
Dari awal kau memang tidak menyukai hubunganku dengan Sam, begitu kuceritakan bahwa Sam adalah lelaki beristri.
“Tapi aku sulit melupakannya. Sudah berkali-kali ia pergi, datang, pergi lagi, datang lagi, namun pintu rumahku masih saja terbuka untuknya. Aku tak bisa membencinya. Namun kali ini sepertinya ia benar-benar pergi. Diam-diam ia membawa barang-barangku yang cukup berharga,” lanjutku, sendu. Tak kuceritakan barang apa saja yang dibawa kabur Sam.