Baca juga: Kasur Tanah – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 17 September 2017)
Kau memang perempuan melati yang bisa mengurangi sesak, stres. Saraf tegang. Kau tahu, belakangan ini aku dikejar utang. Terlalu banyak uang arisan yang kuhabiskan dan tak seorang pun sudi memberiku pinjaman untuk melunasinya. Untung celenganmu yang kausembunyikan di dapur cukup banyak hingga utang-utangku lunas dan sisanya bisa kujadikan uang muka untuk mengontrak rumah baru.
Nanti, di rumah kontrakan yang baru aku akan memagarinya dengan pohon melati. Oh, hampir lupa! Tadi, tanpa sengaja aku bertemu Supardi di terminal bus. Tawa kami berderai saat kuceritakan bahwa kuburan kami membujur di belakang rumahmu. ***
Madura, Oktober 2014
Muna Masyari, bermukim di Pamekasan, Madura. Penulis Cerpen Pilihan Annida 2011 dan Cerpen Pilihan Kompas 2016. Cerpennya terpilih menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2017.