“Mereka siapa saja?”
“Sebagian adalah orang-orang di kampungku yang menyebabkan aku terpaksa mengadu nasib di tanah rantau. Orang-orang yang sempat membuatku disiksa benci dan dendam. Panjang jika kuceritakan riwayatnya dan hal itu sama saja dengan membangunkan mereka dari kuburan.”
Bibirku terkatup. Aku sekarang berdiri di dekat pembunuh? Hatiku tiba-tiba takut dan ngeri. “Kapan kau membunuh Supardi?” suaraku sedikit bergetar.
Baca juga: Celurit Warisan – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 11 Desember 2016)
“Seminggu setelah ia merampas perhiasanku dan ia tiba-tiba lenyap, tidak bekerja sebagai tukang parkir di pasar lagi. Aku bertekad membunuhnya dan menguburnya di situ. Masih untung celengan yang kusembunyikan di dapur tidak berhasil ditemukannya,” nada suaramu penuh syukur.
Aku terdiam
“Bunuhlah orang yang bemama Sam itu. Jangan biarkan ia hidup di hatimu dan berkeliaran dalam pikiranmu. Kuburlah bersama kenangan-kenangan yang pernah kalian jalani. Dengan begitu, kau akan lebih mudah melupakannya. Anggap ia telah mati!” saranmu, menggebu-gebu.
Aku tergugu. Membunuh Sam dengan cara yang kaulakukan? Aku berpikir lama. Mencoba memahami maksud perkataanmu.
Barangkali, dengan hidup sebagai pembunuh, hidupmu menjadi damai. Dadamu terasa lebih ringan. Lebih lengang. Tidak lagi diriuhi caci maki. Tak lagi disesaki bertumpuk-tumpuk benci yang bisa menggerogoti daging tubuhmu. Cukup dengan membunuh orang-orang itu lalu menguburnya, maka perang seolah usai. Barangkali memang seharusnya begitu daripada terus menambah lubang-lubang di dada. Lubang yang tak henti menimbulkan nyeri. Lubang benci dan dendam.
Apakah aku bisa?
***
AKU yakin saat ini kau telah menguburku dan namaku tertera di batu nisan kuburan keenam di belakang rumahmu. Kau terlalu lugu (kalau tidak tega dikatakan bodoh) untuk mempelajari watak orang-orang di dekatmu. Tentu kau tidak menyangka kalau cerita tentang Sam sekadar karangan.