Tanpa kata kau menarik tanganku memasuki sebuah kamar yang rapi dengan satu ranjang, satu lemari dan dinding kosong tanpa gantungan apa pun.
“Kemarilah, akan kutunjukkan sesuatu padamu,” kau terus menarik tanganku mendekati jendela terbuka di samping lemari tua bercat cokelat pudar.
Baca juga: Pesta Kematian – Cerpen Muna Masyari (Koran Tempo, 17-18 Februari 2018)
Kau menguak daun jendela yang menghadap ke pekarangan belakang. Dari lubang jendela jelas kulihat belakang rumahmu yang banyak ditumbuhi pohon-pohon saga. Sebagian pohon saga sudah berbuah dan bijinya berjatuhan. Di samping pohon saga yang paling besar, tinggi, dan berdaun rimbun seolah tidak pernah ditebang sejak tumbuh, kuburan-kuburan berjajar rapi. Satu, dua, tiga… ada lima kuburan berukuran sama dan sebagian sudah ditumbuhi pohon melati di atasnya. Lengkap dengan nama-nama pada batu nisan.
“Kuburan-kuburan siapa itu?” keningku mengerut. Kuburan keluargamu? Rasanya tak mungkin. Kau perantau di sini dan yang aku tahu kau hanya tinggal sendiri. Mengontrak rumah.
“Perhatikan nama-nama pada batu nisannya!” sudut bibirmu tertarik ke samping.
Satu per satu kubaca nama-nama yang tertera pada batu nisan. Murkak, Surakkab, Aspuyeni, Rustam, dan … pandanganku terpaku pada kuburan paling ujung; pada batu nisan bertuliskan Supardi.
Supardi? Keningku mengerut. Yang kukenal, Supardi adalah lelaki yang muncul dalam hidupmu untuk menipu dan merampok tukang parkir di pasar yang semula mengaku bujang itu gigih mendekatimu, merayumu, hingga kau terpengaruh dan menyetujui saat diajak menikah. Di usia 35 tahun, kau memang masih terlihat bugar. Tidak terlalu cantik, namun keceriaan dan semangatmu membuat orang di dekatmu seakan tertular aura positif.
Siapa yang menyangka kalau Supardi hanya tergoda pada gelang, kalung, dan cincin-cincin di jarimu. Setelah kau menuntut kejujuran begitu mendengar ia sudah beristri, tanpa menjelaskan apa-apa ia merampas seluruh perhiasan yang kaubeli dari hasil menjual jamu dan kaukumpulkan demi ongkos keberangkatan haji untuk ibumu di kampung.
Tanah kuburan Supardi masih basah. Merah.
“Itu kuburan orang-orang yang telah kubunuh,” katamu.
Apa? Aku ternganga. Refleks kakiku mundur selangkah.
“Ya! Mereka kubunuh satu per satu!” tegasmu. “Sebab, kalau tidak segera kubunuh, mereka hanya akan meracuni hidupku,” matamu mengerling seperti bocah tanpa dosa.