Baca juga: Penglihatan – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 17 April 2016)
Malka tak pernah cemas soal piano tua di atas panggung itu. Piano itu tak akan rusak meski harus membeku jutaan tahun lagi. Dan piano itu tak memiliki kaki yang bisa membuat beranjak karena bosan terlalu lama menunggu penonton. Di belakang panggung, di balik tirai raksasa berwarna merah pekat, Malka telah menunggu. Selama jutaan tahun. Di sana ada sebuah kursi kayu. Tempat Malka mempersiapkan penampilan terbaik. Di sanalah Malka duduk sambil merapikan tatanan wajah. Menyisir rambut. Mengasah kuku-kuku. Serta membenarkan letak leher yang membeliut.
Sesekali Malka membuka tirai merah itu untuk melihat kursi-kursi penonton yang melompong dari waktu ke waktu. Ke mana para penonton, bisik Malka, lagi dan lagi, meski ia tahu persis jawabannya. Para penonton sedang sibuk berperang di bawah sana. Berperang dan berperang. Dan Malka selalu menyaksikan dengan enggan. Di tengah keengganan itu, Malka mengingatkan diri, betapapun ia rela menunggu, ia tetap punya batasan waktu. Malka punya atasan, dan atasannya telah menentukan batasan waktu yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh Malka. Ketika sang atasan bilang, ‘Waktu menunggu sudah habis, mulai saja pertunjukan!’, maka waktu sudah habis. Dan pertunjukan harus segera dimulai. Malka harus segera membunyikan tuts pertama.
Di pusat dinding, di balik tirai merah di belakang panggung itu, jarum jam raksasa terusmenerus berputar. Dan berdentang bila waktunya berdentang. “Waktu selalu mengendap-endap, dan ia bergerak cepat,” bisik Malka pada diri sendiri.
Di bawah panggung megah itu, suatu waktu, kursi-kursi merah pekat —serupa warna tirai di atas panggung penonton — menghilang. Diganti gumpalan kabut. Tebal serupa gemawan. Dan di bawah gumpalan kabut itu, sebuah pemandangan perang bisa dilihat Malka dengan sangat gamblang, bahkan meski ia hanya melongok dari balik tirai. Sejak jutaan tahun silam, Malka menunggu para penonton selesai berperang. Mereka masih terlalu berkeringat untuk pergi ke pertunjukan musik, pikir Malka. Seusai perang nanti, biarkan mereka pulang ke rumah masing-masing, beristirahat sejenak, lalu barangkali bercinta dengan pasangan masing-masing, sebelum membersihkan diri dan berdandan rapi khas seseorang yang ingin pergi ke pertunjukan. Mungkin mengenakan jas, rompi, dengan dasi kupu-kupu, bagi para lelaki. Dan mengenakan blus warna gelap, bagi para perempuan.